Membangun Peradaban Dari Dalam Keluarga

Orang yang sukses adalah orang yang berani bermimpi besar. Mimpi besar sebuah rumah tangga tentunya adalah menggapai kebahagian dunia dan akhirat. Bahagia itu bukan masalah harta, tahta dan wanita ya.., tapi bahagia yang hakiki. Kebahagian karena keistiqomahan dua sayap yang tak pernah letih menemani dalam perjuangan, yakni sayap syukur dan sabar. Sabar dan syukur yang mana ulama mengibaratkan keduanya bagaikan kendaraan yang sama persis nikmatnya, hingga kita tak akan mampu untuk cenderung memilih diantara keduanya. Sabar dan syukur yang akan mengantarkan ridho Allah. 

Oleh karena itu mari merakit cita-cita besar di mulai dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan kita. Sebagaimana dalam materi di sesi ketiga matrikulasi Institut Ibu Profesional kali ini. Langkah pertama dengan jatuh cinta kembali kepada suami kita, kembali kepada niat di awal ikatan pernikahan ini dikokohkan. 

Jatuh cinta kembali…


Ustad Cahyadi pernah menuliskan bahwa pernikahan adalah proses ta’aruf yang tiada henti hingga akhir usia. Suami maupun saya pribadi, sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan. Dan untuk selalu kembali jatuh cinta dan jatuh cinta lagi cieee 😍😍😍… maka saya harus selalu fokus kepada kelebihan pasangan kita. Disamping itu kita juga berusaha memperbaiki diri kita maka pasangan kita pun akan berbenah dengan semangat tanpa kita yang harus memaksanya berubah. Dan senantiasa berdoa kepada Allah Sang Maha Membolak Balikkan hati, semoga pasangan kita selalu istiqomah dalam beribadah. Saya pun berusaha menuliskan kelebihan-kelebihan pasangan saya di buku ‘diary’ pernikan kami, hingga tak terasa meneteslah air mata ini. Dalam  buku ini pun suami pernah menuliskan sebuah surat cinta kepada saya, hingga saya mantab untuk ‘resign’ dari pekerjaan saya waktu itu.

Setelah membaca surat dari saya, sebenarnya saya ingin mendapat respon yang sama dari suami, yakni dengan menorehkan surat cinta balasan. Tapi apa daya, suami itu tidak mudah dipaksa jika bukan dari keinginannya sendiri. ‘He has his own romantism’, terkadang romantisme itu selalu datang dengan kejutan 😍😍. Let’s wait it! 

Melihat potensi diri…

Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Demikian adalah ungkapan yang tepat untuk saya yang baru menyadari fitrah potensi, minat atau bakat diri setelah menikah dan mengukuti tes kepribadian stifin. Saya sangat tercerahkan bahwa memang benar saya sangat menonjol pada bidang bisnis. Maka sejak saat itu saya memfokuskan untuk berkarir di bidang bisnis sehingga kinerja saya lebih tenang dan terarah (tidak segalau sebelumnya πŸ˜‚πŸ˜‚, yang masih mikir mau jadi ini itu πŸ˜₯) Sehingga sekarang, saya pun mantab untuk menjadi full time mother. Saat ini saya menyakini bahwa inilah fitrah hidup saya yakni sebagai full time mother dan menjalankan bisnis. 

Yang terpenting, adalah kita melihat kembali kepada mimpi peradaban kecil kita dari keluarga. Suami serta calon buah hati saya kelak. Jenis kecerdasan saya adalah spatial quotient, yakni memiliki kemampuan kreativitas meruang (spatial), yang berfungsi otomatis dalam cara kerja inovatif dan meng-assembling berbagai ide ide besar dengan idenya sendiri yang kreatif dan bernilai.  Tipe assembling selalu ingin perubahan yang konstektual dan progresif. 


Menghadapi tantangan lingkungan sekitar….

Harapan dari tipe instiusi extrovert (ie) yang ada pada diri saya ingin selalu bertumpu pada kesempatan untuk menciptakan dan berinovasi sehingga ruang bisnis di sekitarnya berhasil diwarnai dengan aneka perubahan. Tipe ini juga akan merasa hampa jika tidak bisa menciptakan sesuatu untuk lingkunganya. 

Untuk itu saat melihat lingkungannya, mesin kecerdasan kreatif spatial nya pun bekerja. Saya banyak memiliki gagasan tentang ide pembaharuan untuk masyarakat sekitar, awalnya saya sangat tertarik untuk membuat lembaga yang akan sesuai dengan studi saya di bidang sastra anak. Saya ingin membuat lembaga ‘griya inspirasi’ yang memiliki pembelajar khas untuk balita dan usia dini dengan pendekatan psikologi dan linguistic sehingga mereka bisa belajar dengan menyenangkan. 

Tetapi, ide ini mungkin harus di tunda karena saya fokus berbisnis kuliner. Maka peran apa yang saya ambil untuk masyarakat adalah menjadikan bisnis saya “penggerak ekonomi masyarakat dengan peningkatan kesejahteraan rekan kerja” yang bekerja bersama dalam bisnis saya. Tagline inipun saat ini menjadi misi kerja saya saat ini. Misi kerja ini akan membantu dalam mewujudkan misi yang lebih penting yaitu misi spesifik keluarga. Menentukan misi spesifik keluarga…

Jika membangun peradaban dari keluarga kita adalah sebuah impian besar, maka harus ada strategi dan langkah besar pula untuk mencapainya. Semua usaha itu pastinya akan membutuhkan begitu banyak kesungguhan di dalamnya. Sebagaimana yang dituliskan dalam review NHW ke tiga IIP kali ini, bahwa Visi Kehidupan ini adalah “Bersungguh-sungguh dalam menjalankan amanah yang diberikan kepada kita dengan sepenuh cinta.” Dengan misi kehidupan ini adalah modal untuk merusmuskan misi spesifik keluarga. Dan motto keluarga kami adalah “Harits Asy Syahid” impian syahid dengan memahami makna dari kata syahid adalah kesungguhan. Sedangkan misi keluarga kami adalah “Membentuk Generasi Mujahidin”. Generasi mujahidin adalah generasi yang penuh kesungguhan dalam menjalankan amanahnya.  Allahu a’lam bishowab, manusia hanyalah tempat berikhtiar dan Allah lah Maha Berkehendak. 

Daftar Pustaka : 

Poniman, Farid. (2015). 9 Personaliti Genetik (Penjelasan Hasil Tes Stifin). Yayasan Stifin Dki Jakarta 

Review NHW 3 Matrikulasi IIP Batch 4 oleh Tim Matrikulasi IIP

Menjadi Istri Impian di Universitas KehidupanΒ 

Penugasan pertama Nice Home Work di matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch 4 seakan mengajak kita mengambil sebuah komitmen untuk membuat pilihan dan bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Yup! Berani membuat pilihan adalah gerbang untuk bisa disebut pemimpin. Yes, you are a leader! Karena kadang tidak semua orang bisa melihat adanya pilihan lain, karena hanya fokus kepada masalah yang ada. Tantangan pertama adalah memilih dan menentukan satu jurusan ilmu yang akan saya tekuni di universitas kehidupan ini. Hidup adalah pilihan, begitulah kata seorang pujangga bukan? Ingin bertakwa atau musyrik? Ingin bersabar atau tergesa gesa? Ingin bersyukur atau kufur? Yuk kita memilih! 

Salah satu ilmu yang saya ingin mahir di dalam nya, tak lain adalah menjadi pribadi istri impian sebagaimana yang dituliskan oleh Isham bin Muhammad Asy-syarif dalam kitabnya Hadzihi Hiya Zaujati. Dalam pengantarnya seorang pengajar masjid Al Nabawi menyebutkan bahwa kitab ini adalah buku pembangun rumah tangga yang paling bagus selama pengetahuannya, karena dituliskan begitu detail tentang karakter-karakter yang wajib dimiliki oleh muslimah dan dilengkapi kurikulum belajarnya. 

Terdiri dari 20 sifat-sifat istri Shalehah yakni memiliki agama yang kuat, berakhlak mulia, mencari ilmu agama beserta kurikulumnya dengan memberikan referensi kitab yang wajib dituntaskan. Bab-bab selanjutnya tentang Adab kepada suami yaitu bab mengetahui kemampuan suami, bab peka mencari ridho suami, bab dermawan tidak menyebutkan kebaikan dan lebih mengutamakan suami. 

Bab berikutnya tentang manajemen rumah tangga seperti bab ke tujuh tentang pandai mengatur keuangan rumah, bab qona’ah, bab memperhatikan keindahan dan keharuman, bab selalu berterima kasih kepada suami, berbuat baik kepada mertua dan saudara-saudaranya, dilengkapi juga bab istri yang bijak mengatasi masalah rumah tangga. 

Bab yang sangat menarik adalah bab ke tiga belas tentang bersungguh – sungguh dalam mendidik anak, yang lengkap dengan kurikulum kitab dan ilmu apa saja yang harus tuntas di ajarkan kepada anak di setiap jenjang usianya. Tiga bab terakhir adalah bab ingat mati, siap di alam kubur, beriman, mujahadah, dan bersabar. Bab ke dua puluh adalah berdakwah di jalan Allah.

Walaupun disebutkan pula oleh penulis jika untuk bisa sempurna memenuhi semua sifat diatas adalah sesuatu yang sulit bahkan mustahil akan tetapi kriteria diatas bisa dipakai untuk acuan belajar. Kenapa kita harus belajar menjadi istri impian karena hal tersebut adalah tujuan dari penciptaan kita, yakni mencapai kesuksesan dunia dan akhirat, dan kembali kepada Allah dengan raport yang baik dengan telah melaksanakan apa yang Allah telah tetapkan dalam kehidupan kita. 

Lalu bagaimana strategi kita untuk bisa menuntaskan ilmu yang mulia ini, yang pertama adalah dengan membuat target pencapaian. Target dibuat dengan manajemen waktu yang baik yaitu target harian, bulanan hingga  target tiap tahun yang ingin di capai baik pribadi, ataupun keluarga. Selanjutnya, target dibuat sedetail mungkin  agar jelas manfaat dan perkembangan yang diraih. Misalnya, kurikulum belajar anak yang sudah dirancang dan di arsipkan dengan rapi, membuat alat pembelajaran mendidik buah hati, misalnya APE metode Glenn Doman. Untuk diri sendiri, disiapkan kurikulum meningkatkan kemampuan minat dan bakat, misalnya kemampuan desain ilustrator, children song dan children literature. Setelah kurikulum dan target keberhasilan, maka diperlukan peran kontroling dan pendampingan, misalnya dengan mencari mentor yang ahli di bidang tersebut dengan adanya kelompok belajar atau kajian pekanan, kursus atau komunitas belajar. Dengan demikian maka belajar akan menjadi lebih menyenangkan karena kita bisa belajar bersama-sama. Yang ketiga adalah evaluasi atas target – target yang telah ditentukan dan perbaikan diri secara terus menerus. Sehingga antara ilmu dan amal itu seharusnya berjalan secara sejajar. Karena ilmu tanpa amal itu tidak ada manfaanya, dan selebihnya akan mengundang mara bahaya.

Dan yang terakhir dari bagian penugasan sesi pertama ini adalah yang terpenting  berkaitan dengan adab menuntut ilmu. Saya pribadi menyadari bahwa masih banyak sekali kekurangan sikap yang harus dirubah dalam adab menuntut ilmu. Dalam hal adab terhadap diri sendiri kelemahan atau kelebihan saya (tergantung eksekusi ya πŸ˜‚πŸ˜‚) adalah sangat bagus bekerja saat genting alias mepet waktu deadline. Karakter saya ini bisa jadi bomerang, tetapi psikotest untuk karyawan menyebutkan karakter seperti saya ini malah yang harus diterima kerja, buruknya saya jadi suka menunda pekerjaan πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯ alis suka kepepet. Jadi, sikap pertama yang ingin di ubah adalah menunda pekerjaan dan malas (astaghfirullah, ampuni hambamu ini Ya Rabb)

Saya juga plegmatis berdarah O, mudah mengambil kesimpulan atau inti masalah, membaca situasi dan tidak suka dengan konflik sehingga cenderung pasif di forum (suka dipikir dewe 😌😌😌). Saya kalau tanya di forum itu pasti sudah mikir lama dan matang bahwa itu pertanyaan penting dan saya tidak tahu jawabanya itupun dengan deg deg an πŸ˜‚πŸ˜‚. Kadang tidak suka dengan konflik malah membuat saya cuek, merasa lebih paham πŸ˜₯ jadi saya ingin belajar aktif di forum juga tidak cuek dengan orang lain. 

Selanjutnya, terkait adab dengan guru dengan karakter saya adalah murid yang baik he he he pendiam gak neko neko πŸ˜‚πŸ˜‚ dan pengertian. Yang jelas saya ingin selalu menghormati semua guru saya. Kembali lagi, karena karakter pendiam ini mungkin saya kurang bisa dekat dengan orang baru dengan cepat, seperti halnya teman saya yang lain. Sehingga adab kepada guru yang ingin saya perbaiki adalah bisa memuliakan guru dengan sebaik mungkin, dengan lebih sensitif dan perhatian.

Yang terakhir adalah adab terhadap ilmu itu sendiri. Untuk hal copas dan share mungkin bukan saya banget ya… Bayangkan berapa lamanya saya mikir buat bikin status atau share 😌😌😌. Makanya saya hampir satu tahun mungkin update Fb kurang dari sepuluh post atau mungkin gak pernah sama sekali. Beda dengan menulis di blog karena bukan sosmed yang ada banyak orangnya, jadi saya lebih bebas. Adab terhadap sumber ilmu berupa meletakkan kitab ini yang harus diperhatikan karena kadang buku berserakan ditempat tidur (dikeloni, dibuat bantal πŸ˜‚πŸ˜‚). Alhamdulilah kepustakaan termasuk kelebihan saya, minat dan bakat saya ada di tumpukan buku-buku, cocoknya jadi pustakawan. Baru dua tahun ini menyadari potensi ini, karena suka mengklasifikasikan buku memberi lebel dengan warna yang berbeda-beda. Dan pastinya suka mengkoleksi buku. Dulu sempat cuek dengan membeli buku bajakan yang murah meriah di loak-an, tetapi sekarang berusaha untuk membeli buku asli, semoga Allah lancarkan rezeki ya… Amin ya Robbal ‘alamin. 

  

Chase The Vision, Not The Money

Chase the vision not the money, and the money will following you.

Adalah sebuah quote terkenal di bidang motivasi bisnis oleh Tony Hsieh. Penulis pribadi, mengenal motto ini dari video motivasi Sandiaga Uno, seorang pengusaha muda yang sukses bahkan dirinya masuk sebagai deretan pengusaha terkaya di Indonesia.

Arti dari motto tersebut adalah membuat kompas (arah) kemanakah kerja-kerja kita selama ini akan bermuara, dengan kata lain, apa tujuan besar dari usaha kita? Apakah itu uang yang banyak? Big No!! Saat kita bekerja untuk mendapatkan uang kita tak jauh berbeda dengan seorang pengemis.

Budiono Lie mengatakan orang yang bekerja karena takut tidak ada bedanya dengan robot, orang yang bekerja karena uang tidak ada bedanya dengan pengemis, hanya orang sukses yang bekerja karena impian mereka.

Mereka yang sukses adalah yang memiliki visi dalam hidupnya, dan ia berusaha keras untuk mewujudkannya. Sandiaga Uno menyebutkan beberapa contoh orang orang sukses yang tidak hanya berbisnis karena uang. Salah satunya, adalah pendiri perusahaan Honda.

Saat itu, Tuan Honda mempunyai visi mewujudkan kendaraan yang terjangkau sehingga bisa dimiliki oleh semua orang. Perusahaan kompetitornya pun mencemooh produksi Honda yang dianggap tidak mewah dan kapasitasnya yang terbatas. Dan kini, ternyata impiannya sukses, Honda pun menjadi perusahaan yang besar.

Sandiaga uno juga membuka rahasia visi nya dalam berkerja. Ia menyebutkan bahwa visinya adalah membagun Indonesia yang merata di bidang ekonomi (MasyaAllah, tak heran sekarang beliau ingin menjadi pemimpin di sebuah wilayah Indonesia, you now lah,  kan booming banget πŸ˜„πŸ˜„)

Sejak mengetahui ilmu ini, usaha saya seakan mendapat ruh baru. Saya mulai bermuhasabah, merenungkan kembali tentang apa visi atau impian saya membangun bisnis ini?

Saya adalah perempuan muslimah. Seorang istri, melayani suami sebaik mungkin dan mengharap ridhonya adalah tempat surga saya bernaung. Menjadi ibu pastinya impian semua wanita 😍😍. Ibu adalah madrasah pertama anaknya, guru terbaik sejak dalam janin hingga ia baligh. Prinsip ini adalah pondasi utama saya mengambil pilihan. Pertama memilih menjadi full time mother (wanne be ya), untuk itu muncul pilihan kedua yaitu membangun usaha mandiri agar tetap produktif sambil merawat anak nantinya πŸ˜„πŸ˜„ ( walaupun ini tidak wajib ya, atau dibilang ini tuntutan sosial aja he he he biar gak dibilang pengangguran, nanti di gosip in sarjana kok nganggur ha aha ha). Jadi wanita enggak bisnis atau kerja is fine, ingat teladan kita ada Aisyah Binti Abu Bakar yang juga tidak berbisnis)

Dan visi dalam membangun bisnis adalah “menggerakkan ekonomi rakyat dengan mu’amalah barokah” Apa saja manfaat sejak penulis mempunyai visi ini? Banyak sekali, pertama, saya bisa lebih fokus dan tidak mudah tergiur untuk berpindah ke lain hati he he he. Ingat!! Prinsip bisnis harus setia pada produk.

Kedua, dalam bekerja menjadi lebih ikhlas. Tidak gampang mengeluh saat uang banyak buat belanja modal. Ketiga, lebih profesional dalam berbisnis, bermuamalah dengan karyawan dan juga rekan bisnis. Lebih bersyukur dan selalu ingin bermanfaat untuk orang lain, lebih santun dalam bermu’amalah dan banyak sekali Alhamdulillah… Semoga istiqomah πŸ™πŸ™πŸ™.

Jahilnya LisanΒ 

Awalanya perihal lisan ini tidak begitu merisaukan. Apalagi dengan karakter penulis yang plegmatis, sedikit cuek dengan sekitar (sedikit ya πŸ˜…πŸ˜…). Tapi ini sudah menjadi sebuah fenomena yang terpampang nyata (ala princes) di masyarakat.Tidak kurang, dengan bukti banyaknya curhatan para saudara dan saudari di dinding facebook bahwa bahaya kejahilan lisan sudah membuat sang target omongan menjadi galau. Dan harus segera menemukan obat anti mendengarkan omongan orang (yg negatif ya). InsyaAllah obatnya adalah dengan ilmu. Ilmu adalah gerbang kita lebih dekat dengan Sang Penguasa Hati. 

Sebuah status ig ustad Salim A Fillah yang sangat berbobot kultum tentang Omongan. Yuk mari belajar bersama lagi disini 😘.  Ternyata masalah omongan orang ini pun ada ilmunya ya, MasyaAllah. 

“Siapa yang mengira bisa selamat dari omongan manusia?” Demikian dikatakan Imam Asy Syafi’i. Siapakah diri kita ini? Apakah lebih baik dari keduanya? Yaitu Allah Yang Maha Esa saja di sebut “Yang ketiga daripada tiga” dan Rosulullah manusia terbaik disebut nya “Si penyihir dan gila”. Jadi tentunya kawan ternyata kita tidak sendirian πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Tengoklah dinding dinding facebook kita ternyata banyak yang senasib sepenanggungan. 

Contoh ya bund, dulu belum juga menikah omongnya “kok kuliah terus kapan nikah nya”. Padahal si do’i juga maunya cepet nikah. Tibanya sudah nikah dan memilih fulltime mother, omongannya “lho kan sayang kuliah tinggi-tinggi kok hanya dirumah saja.” 

Pelajaran ya buat kita semua, termasuk saya juga bahwa standar keberhasilan si A belum tentu sama dengan impian si B. Setiap orang itu spesial dan tidak bisa dibandingkan, “kenapa si A pinter kok gak jadi pegawai kayak si B gitu kan enak ya, kok malah jualan.” Makanya jangan mudah sekali berprasangka buruk kepada seseorang, karena kita tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi kita belum mengenalnya, contoh hanya menonton berita dari televisi atau video di wa saja sudah mengkaim bahwa si A itu ternyata bejat ya suka nipu orang dan lain lain sebagainya. 

Jadi point pertama menghadapi jahilnya tuh si omongan adalah menyadari bahwa Allah saja Yang Maha Suci aja di gunjing sama manusia hadeeh 😭. Mestinya kita yang memang sumber dari dosa ini harus menerima dengan sabar. Omongan manusia itu keniscayaan yang merupakan bagian dari dunia ini.  

Point kedua, dengan membangun kepercayaan diri. Imam ibn Abdil Barrb dalam intiqa’ mengutip perkataan Imam Asy Syafi’i, “Siapa yang mengenal dirinya, takkan merugikannya apapun yang dikatakan orang tentangnya.” 

Malahan kita akan semakin merunduk karena malu, malu di setiap saat, karena kita sejatinya lebih buruk dari yang dipergunjingkan. Karena Allah masih menutupi sebagian besar aib kita. Salim A Fillah memberikan pilihan yang sangat mengesankan bagaimana kita harusnya merespon omongan itu, yaitu dengan menjawab, ” jika kau benar, semoga Allah mengampuniku, jika kau keliru, semoga Allah mengampunimu.” Jadi gak perlu galau galau lagi ya apalagi ditambah “grundel” (ikutan berbicara keburukan orang lain juga) di media sosial. 

Point ketiga ini membuat kita semakin ikhlas di omongin orang “ngalor ngidul”, yakni sesuai dengan hukum kekebalan energiπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚, Imamn Hasan Al Bashri menuliskan hukum tentang ghibah. Bahwa ghibah akan mengurangi dosa orang di dibicarakan, ujarnya, ” Selamat datang tambahan pahala serta pengurangan dosa, yang tanpa lelah beramal dan tanpa payah berusaha.” MasyaAllah.