Diposkan pada Diary Kehidupan, institut ibu profesional, Kuliah Bunda Sayang, melatih kecerdasan spiritual, Tantangan 10 Hari

Melatih Kecerdasan Spiritual #Dzikir Nafas #Day10

Dengan penuh perjuangan, sampailah pada tantangan hari ke sepuluh. Sebenarnya dalam hal praktiknya sangat sederhana, yang lebih sukar yakni saat membuat laporan narasi yang berfaedah. Sehingga saya mereview materi tentang dzikir nafas. Diharapkan dengan membaca dan mengikatnya kedalam postingan ini maka sedikit muncul pemahaman pemahaman yang bertambah tentang ilmu dzikir nafas ini. 

Selama mencoba melakukan dzikir nafas memang sulit sekali untuk selalu lurus ke Allah. Tapi dengan dzikir nafas muncul sedikit sedikit kesadaran yang selalu memotivasi setiap harinya. Jika dilihat dari tahapan dzikir nafas, maka saya masih dalam tahapan belajar mengikuti nafas yakni dalam gerak tubuh saja. 

Tahapan melakukan dzikir nafas : 

1. Belajar mengikuti nafas (gerak tubuh)

Saat kita memperhatika nafas maka kita akan menyadari adanya dorongan atau daya nafas yang diluar dari kesadaran kita. Gaya tersebut berada diluar kemampuan kita. Sehingga kita tidak mengatur nafas, misalnya saat kita tidak sadarkan diri atau saat tertidur kita masih bernafas. Maka daya itulah yang kita amati bukan dengan mengatur daya itu. 

2. Belajar mengikuti nafas dengan lafaz “Huu Allah” (gerak tubuh dan batin) 

Pada tahap ini, yang dilatih adalah mensinkronisasikan antara keluar masuknya nafas dengan lafaz “Huu Allah”. Kombinasi antara hati yang melafazkan Huu Allah dengan gerak nafas menjadikan terbawa kepada kondisi spiritual yang dalam.

3. Belajar mengikuti nafas dengan diikuti gerak jiwa (gerak tubuh, batin dan jiwa)

Salah satu hal yang saya pahami adalah diri kita terdiri dari beberapa bagian dimana disebutkan adanya tubuh, batin, jiwa dan ruh. Dalam tahapan ini, kita mencoba untuk meresapi lebih dalam lagi dzikir yang kita lakukan. Apakah dzikir tersebut bisa hingga menyentuh ruhani kita. Selama ini kita memahami bahwa tingkatan ruh kita bisa naik atau turun oleh karena itu terdapat kajian tentang Tazkiyatun Nafs. Bagaimana mensucikan jiwa, berarti jiwa tersebut bisa kotor hingga perlu di sucikan kembali. 

4. Belajar berdzikir dengan zeromind (gerak tubuh, batin, jiwa dan ruh) 

Sesuai dengan tema yakni kecerdasaan spiritual, maka pembahasan ini mungkin menjadi semakin absurd yakni tidak tampak tapi nyata. Seperti halnya keimanan dimana kita yakin atas ke-Esa-an Allah, walaupun kita tidak dapat melihat Allah. Pada tahap ini disebutkan bahwa ini adalah wilayah Allah, jika kita dikehendaki-Nya maka kita akan sampa di wilayah ini. Dalam pemahaman saya wilayah ini seperti halnya pemahaman dan hidayah Allah. Dimana hidayah Allah lah yang bisa menyentuh ruhani kita sehingga menjadi pengalaman ruhani yang dalam dan dapat mengantar kita kepada kondisi spiritual yang lebih baik. 

Semoga dalam ringkasan seadanya ini bisa menambah pengetahuan tentang dzikir nafas. Tantangan sepuluh hari sebenarnya sangatlah tidak maksimal bagi saya, karena masih banyak sekali kesalahan yang saya buat selama tantangan ini. Banyak sekali ketidak seriusan dalam memaksimalkan waktu agar tidak terbuang sia sia. Semoga tantangan meningkatkan kecerdasan spiritual ini bisa terus saya lakukan dengan istiqomah untuk kedepannya. 

Iklan
Diposkan pada Catatan Kajian, institut ibu profesional, Kuliah Bunda Sayang, melatih kecerdasan spiritual, Tantangan 10 Hari

Melatih Kecerdasan Spiritual #Dzikir Nafas #Day9

Pada tantangan hari ke sembilan, masih dengan meningkatkan kecerdasan spiritual. Saya dan “my life partner” memang tidak ingin mempunyai target yang terlalu muluk – muluk untuk tantangan periode ini. Saat saya sampaikan tentang tantangan ini, respon nya cukup sederhana. Intinya, ia mengatakan “lurus ke Allah dulu saja belum bisa”. Maksudnya adalah amanah dengan semua yang Allah amanahkan kepada kita. Contoh yang sederhana adalah bagaimana saya merawat suami dengan ikhlas dan “benar”. Bagaimana saya amanah terhadap diri saya sendiri. Untuk itu, saya pikir Dzikir nafas ini sangat sesuai untuk selalu mengingatkan saya agar selalu amanah dalam menjalani kehidupan. 

Dzikir Nafas dan Anchoring (Sebuah Pendekatan NLP)

Setiyo Purwanto dalam buku Dzikir Nafas menyebutkan  bahwa dalam Linguistic Programming (NLP) salah satu cara untuk menjadikan sesuatu secara instan adalah dengan menggunakan teknik Anchoring. Teknik ini mendasarkan pada teori tentang hukum asosiasi pikiran dimana suatu perilaku bisa dipicu dengan memori peyertanya. 

Nafas bisa diibaratkan sebagai tasbih. Alat tasbih yang sering kita gunakan dapat menjadi anchor yang akan mempercepat kita untuk sadar kepada Allah. Jadi, sebenarnya dzikir nafas tidak berbeda dengan dzikir yang menggunakan butir butir tasbih. Nafas dalam hal ini adalah alat untuk mempermudah kita menyadari Allah. 

Menggunakan nafas sebagai alat berdzikir dinilai sangat efektif karena dua alasan. Alasan yang pertama adalah karena nafas dan ucapan Huu Allah menjadikan asosiasi terhadap suasana dzikir yang khusyuk mudah kita capai.  Sedangkan alasan yang kedua adalah karena penggunaan nafas yang setiap kita gunakan ini akan memperdalam tingkat intensitasnya. Dimana prinsip anchor adalah intensitas. Jadi, semakin sering kita menggunakan nafas umtuk dzikir, maka akan semakin cepat pulalah kitab terasosiasi kepada kesadaran terhadap Allah. 

Diposkan pada Catatan Kajian, institut ibu profesional, Kuliah Bunda Sayang, melatih kecerdasan spiritual, Tantangan 10 Hari

Melatih Kecerdasan Spiritual #Dzikir Nafas #day8

Dzikir Nafas Mengurangi Stress 

Pada hari ke delapan kita belajar tentang dzikir nafas dan pengaruhnya dalam upaya mengurangi tingkat stress pada manusia. Pernafasan juga berperan untuk membatu proses perbaikan sel sel yang rusak. Karena itulah, biasanya pada kasus yang cukup berat, tehnik pernafasan mampu membantu dalam proses pengobatan. Sel sel dalam tubuh manusia akan mengalami degradasi sebagau akibat dari cedera, stress atau badan yang kelelahan. 

Dzikir nafas menjadi sebuah solusi mengusir stress yang sederhana. Dimana sebagian besar orang biasanya memilih mengunjungi tempat pariwisata untuk melepas penat dengan berekreasi atau dengan memilih melakukan hobi dan olahraga. 

Dzikir nafas merupakan sikap pasif atau pasrah dengan menggunakan kata yang diulang ulang, sehingga menimbulkan respon relaksasi yakni perasaan tenang. Dalam dzikir nafas, respon relaksasi digabungkan dengan keyakinan (keimanan). Pengulangan kata kata yang dipilih akan dapat membangkitkan kondisi relaks. Metode penggabungan ini akan lebih efektif dari pada relaksasi yang tidak melibatkan faktor keimanan. Sehingga metode ini bisa menghantarkan relaksasi yang mendalam. 

Terlepas dari manfaat nya yang sangat banyak, sebagaimana kewajiban sholat yang telah dibuktikan dengan banyak penelitian bisa membuat tubuh manusia menjadi sehat, maka tak perlu alasan tentang kesehatan yang di timbulkan fan cukup bahwa sholat dan dzikir adalah perintah dari Allah saja sudahlah sangat cukup bagi kita untuk selalu menjalankannya dengan sebaik baiknya.

Stress bisa diakibatkan oleh berbagai macam konflik dalam setiap individu. Apabila konflik yang terjadi di setiap waktu tidak terkelola dan bersifat destruktif, maka akan memberi dampak destruktif bagi fisik dan jiwa seseorang.

Stress juga akan mempercepat detak jantung dan memperpendek durasi pernafasan. Dalam literature dunia kesehatan, semakin pendek durasi pernafasan dan semakin cepat detak jantung, maka kesehatan semakin menurun. Nah, dengan dzikir nafas kita dapat memperhatikan keluar masuknya nafas dan pada saat yang sama mengiringinya dengan lafaz Huu Allah, maka nafas akan melambat. Detak jantung pun akan menurun kecepatannya secara otomatis. 

Hal ini akan menimbulkan efek samping berupa ketenangan pikiran dan emosi. Secara otomatis, ketika emosindan pikiran menjadi tenang maka stress pun akan menghilang. 

Diposkan pada Diary Kehidupan, institut ibu profesional, Kuliah Bunda Sayang, melatih kecerdasan spiritual, Tantangan 10 Hari

Melatih Kecerdasan Spiritual #Dzikir Nafas #day7

Nafas dan Kesehatan

Pada tantangan hari ke tujuh kali ini kita akan mereview tentang hubungan antara dzikir nafas dan pengaruhnya untuk kesehatan. Didalam tubuh manusia terdapat syaraf yang mengendalikan hormon yang tergantung dengan kondisi jiwa. Apabila kondisi jiwa kita baik maka tubuh kita akan baik juga. Demikian juga sebaliknya, jika kondisi jiwa kita sedang tidak baik maka akan berpengaruh kepada kondisi syarat dan hormon tertentu yang ada dalam tubuh kita. Sehingga ketidak normalan kerja syaraf dan hormone tersebut bisa menimbulkan penyakit.

Dalam kondisi psikis kita yang sehat, maka terdapat jaringan psiko-neuro-endokrin yang dapat mengendalikan kekebalan tubuh. Kekebalan tubuh meningkat selaras dengan meningkatnya faktor psikis dalam jaringan tersebut. Sebagai penyeimbang agar tubuh tetap sehat, kita bisa memberi motivasi pada diri kita sendiri untuk menumbuhkan ketenangan, rasa sabar, dan semangat yang tinggi.

Kita juga perlu terus menerus memotivasi diri kita sendiri agar senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. Karena, konon motivator terbaik adalah diri kita sendiri, sebagaimana musuh terbesar kita adalah diri kita juga. Salah satu amalan ibadah yang paling utama adalah berdzikir mengingat Allah SWT. Dengan dzikir akan memberikan ketenangan yang pastinya akan berpengaruh pada syaraf dan sistem hormonal kita untuk menjadi lebih baik. Sehingga kekebalan tubuh kita meningkat dan penyakitpun sulit untuk masuk kedalam tubuh kita.

Adapun dalam sisi kesehatan metabolisme tubuh, tubuh manusia memerlukan oksigen dalam darah agar sistem metabolisme tubuh berjalan lancar. Dengan pernafasan yang benar kebutuhan oksigen dalan tubuh akan terpenuhi dengan baik. Setelah kurang lebih selama 3 menit kita mempraktikan dzikir nafas maka dengan sendirinya kit akan teratur dengan durasi mengambil dan mengeluarkan nafas lebih panjang. Semakin banyak oksigen yang dihirup maka pemenuhan oksigen dalam tubuh kita akan optimal, sedangkan pengeluaran nafas ulyang panjang akan membuang co2 secara lebih maksimal.

Sumber referensi : Dzikir Nafas, Setiyo Purwanto, 2017.

Diposkan pada Diary Kehidupan, institut ibu profesional, melatih kecerdasan spiritual, Tantangan 10 Hari

Melatih Kecerdasan Spiritual #Dzikir Nafas #Day6

Dzikir Nafas dan Mengendalikan Emosi

Pada tantangan hari ke enam, saya ingin berbagi sebuah pengalaman pribadi, bagaimana dzikir nafas membantu kita untuk bisa mengendalikan emosi. Saat itu saya sedang belanja kebutuhan warung. Seperti biasa belanja mingguan yang langsung memenuhi stok dalam jumlah yang cukup besar. Sehingga belanja saat itu cukup banyak. 

Demi menepati jadwal belanja pun, saya harus menerjang hujan. Selama belanja saya mengeluarkan handphone tablet saya untuk menghitung total uang perbelanjaan. Saat sedang membayar dikasir saya meletakkan tablet saya di rak makanan ringan yang berada didepan meja kasir. Saya sempat melihat tablet saya saat mulai membayar dan muncul firasat dalam hati berkata “hati hati handphone nya jangan sampai tertinggal di situ”. Walaupun sudah berpikir seperti itu apalah daya saya yang masih belum fokus dan setelah membayar belanja pun saya lupa mengambil handphone saya. 

Bahkan setelah saya belanja saya tidak sadar kalau handphone saya tertinggal hingga dua jam kemudian. Satu jam saya berada di warung dan setelah itu baru pulang. Setelah pulang dan mau istirahat rebahan di tempat tidur saya baru tersadar kalau handphone saya tertinggal di toko tempat saya belanja. 

Alhasil saya pun bergegas kembali ke toko tersebut. Sembari mengingat Allah saya berangkat dan berusaha menenagkan diri. Berusaha untuk pasrah dengan segala ketentuan Allah. Dan menyadari bahwa segala yang terjadi atas kehendak Allah. Di sepanjang perjalananpun saya berusaha fokus dan mengamati nafas. Berusaha agar terus sadar Allah. 

Alhamdulilah, setelah sadar Allah dengan bantuan dzikir nafas, saya merasakan lebih tenang. Saya pasrah akan ketentuan Allah bahwa rezeki dan musibah adalah bagian dari kehendal Allah pada hambanya. Jika masih rezeki maka tablet saya mungkin saja terlihat oleh kasir toko yang memang rata rata pegawai toko langganan saya ini terkesan jujur. Dan jika memang bukan rezeki saya lagi, mungkin hal ini adalah pilihan terbaik saya. 

Saya pun tiba di toko dengan tenang sambil menanyakan apa ada handphone yang tertinggal. Syukurlah tablet saga di simpan oleh kasir toko tersebut. Dan kasirnya pun tanpa ragu memberikan tablet itu kembali. Demikianlah pengalam saya dengan dzikir nafas, yang saya rasakan sangat membatu untuk mengontrol emosi. Karena memang denga merasakan kehadiran nafas dengan kesadaran Akan Allah pastinya bisa membuat hati menjadi lebih tenang dan damai. 

Diposkan pada Catatan Kajian, institut ibu profesional, Kuliah Bunda Sayang, melatih kecerdasan spiritual, Tantangan 10 Hari

Melatih Kecerdasan Spiritual #Dzikir Nafas #Day5 

Hari ke lima berlatih meningkatkan kecerdasan spiritual. Sebenarnya, tantangan ini sangatlah sulit untuk saya. Tapi karena tidak ingin melewatkan level perkuliahan di kelas Bunda Sayang Institut IBu Profesional, maka mau tak mau saya harus siap.  Sambil berenang minum air, mungkin demikian peribahasa yang saya alami. Sambil mengerjakan tugas  bunda sayang, saya juga bisa memaksakan diri untuk berhijrah untuk lebih  baik. Untuk itu, perlahan semoga saya bisa istiqomah untuk berubah lebih baik. Dan wadah yang saya gunakan untuk melatih diri sendiri adalah dengan berlatih dzikir nafas. 

Nafas diartikan udara yang keluar dan masuk dalam tubuh manusia. Keluar masuknya udara ini untuk membuat manusia bertahan hidup. Setiap kita yang masih hidup pasti bernafas. Dzikir nafas bukanlah ilmu pernafasan. Disini kita hanya mengikuti nafas bukan mengatur nafas. Jika kita mengatur nafas maka kita tidak bisa fokus berserah kepada Allah tapi teralihkan perhatiannya untuk mengatur nafas itu sendiri. 

Kata nafas bisa dikaitkan juga bahwa Allah menyempurnakan manusia dengan meniupkan ruh ke dalam jasad. Kata tiup sangat erat kaitanya dengan kehendak Allah. Ini memberikan gambaran bahwa Allah menggunakan kehendak Nya untuk mengikat atau menyatukan jasad dan ruh kita. Berarti dalam setiap nafas manusia ada kehendak Allah SWT. 

Antara Nafas dan Nafs

Dalam surat Al Hijr 28-29, disebutkan bahwa ketika jasad manusia telah sempurna, maka Allah meniupkan Ruh-Nya. Di dalam ayat tersebut jika dicermati maka unsur manusia terdiri dari dua yaitu jasad dan ruh, setelah bersatu maka munculah nafs yang berarti diri. Jadi ada tiga unsur yang dapat kita jadikan patokan dalam proses pembentukan manusia yakni jasad, Ruh, dan Nafs. 

Perubahan pemahaman bahwa yang menafaskan saya adalah Allah. Atas kehendak Allah lah setiap nafas yang terhembus menjadikan adanya perspektif yang berbeda tentang kehidupan dunia. Misalnya, saya mulai mempasrahkan diri kepada kehendak Allah Yang Maha Pemberi Kehidupan. Dari yang sederhana tentang nafas dengan memperhatikan keluar masuk nafas kemudian disertai dengan kesadaran spiritual (ihsan) menjadikan pemahaman pemahaman tentang kehidupan mengalir, dan semakin merasakan pemahaman yang dalam di setiap hikmah kehidupan. Dari yang sekedar nafas ini, muncul pemahaman bahwa Allah berkehendak di segala sisi kehidupan saya dan tentunya hal ini dapat merubah sikap ke arah yang lebih positif. 

Sumber referensi : Dzikir Nafas, Setiyo Purwanto, 2017. 

Diposkan pada Artikel, institut ibu profesional, Kuliah Bunda Sayang, melatih kecerdasan spiritual, Tantangan 10 Hari

Melatih Kecerdasan Spiritual #Dzikir Nafas #Day4

Amalan Dzikir bisa dibedakan menjadi beberapa tingkatan kemampuan. Misalnya, dzikir yang hanya berhenti dalam pengucapan saja. Dengan hanya membaca bacaan dzikir saja, sudah dianggap berdzikir. Meski emosi dan pikiran tidak dilibatkan. Dzikir dalam tahap seperti ini merupakan dzikir level pertama. Namun, tingkatan dzikir inipun sudah mendapatkan pahala dari Allah SWT. 

Tingkatan kedua, adalah dzikir dengan pikiran. Dimana pikiran mengarah kepada apa yang diucapkan dan memikirkan apa yang diucapkan. Misalnya saat kita mengerti akan bacaan lafaz yang kita ucapkan. Tetapi pengertian itu berhenti sebatas ingatan kita. Tetapi kita tidak meresapi hingga menjadikan ingatan itu sebaga kesadaran. 

Dzikir tingkat ketiga, adalah dzikir dengan hati. Dzikir ini merupakan tingkatan yang lebih tinggi dari dzikir pikiran. Karena, hati secata otomatis dapat mengaktifkan dzikir pikiran tetapi tidak sebaliknya. Jika saya mengamati yang dimaksud dzikir dalam tingkatan hati ini adalah dzikir yang lembut “lathif” yang hingga menggetarkan hati. 

Sedangkan, dzikir yang ke empat adalah dzikir kesadaran. Dzikir inilah yang sering diidentikkan dengan ihsan. Ihsan adalah keadaan berdzikir dimana seseorang merasa sedang menghadap Allah. Merasa sedang memuji Allah dengan segenap kesadaran. Sehingga yang namanya orang yang sedang sadar maka ia tidak akan lalai lagi atau ia kembali kedalam kekufuran dan melakukan perbuatan maksiat. Orang yang ihsan tidak akan berbuat dholim. Perbuatan dholim yang seperti apa yang biasanya kerap sekali masih kita lakukan. Misalnya, kurang memperhatikan suami dengan baik. Kurang bisa memenuhi segala kebutuhannya dengan baik misalnya dengan jadwal makannya dan segala keperluan pribadinya. 

Adapun dholim dengan diri sendiri, misalnya terlalu banyak menghabiskan waktu untuk hal hal yang tidak bermanfaat hingga tidak fokus akan target yang ingin dicapai. Hal inilah yang masih menjadi evaluasi saya dalam tantangan melatih kecerdasan spiritual pada hari ke empat ini. Sehingga jika dinilai maka tingkatan dzikir yang dilakukan masih belum dalam taraf dzikir kesadaran. Sedangkan untuk suami sebagai partner saya dalam meningkatkan kecerdasan spiritual ini, lebih mempraktekkan dzikir nafas saat selesai sholat. Ia meluangkan waktu untuk fokus dan melatih dzikir nafas. 

Dalam menghadapi partner hidup saya, saya mencoba untuk lebih fokus dalam perbaikan saya pribadi. Dan saya yakin bahwa disaat saya berhasil berhijrah menjadi pribadi yang lebih baik maka begitu pula dengan suami. Hal ini adalah sunatullah. Sebaliknya, jika saya lalai maka suami saya pun kondisi ruhnya tak akan jauh berbeda. Untuk itu, saya tidak pernah mengeluh atas sikap suami. Lebih baik saya mengaca pada diri saya sendiri dan berlatih terus meningkatkan kecerdasan Spiritual saya.