Diposkan pada Artikel, institut ibu profesional, Kuliah Bunda Sayang, melatih kecerdasan spiritual, Tantangan 10 Hari

Melatih Kecerdasan Spiritual #Dzikir Nafas #Day4

Amalan Dzikir bisa dibedakan menjadi beberapa tingkatan kemampuan. Misalnya, dzikir yang hanya berhenti dalam pengucapan saja. Dengan hanya membaca bacaan dzikir saja, sudah dianggap berdzikir. Meski emosi dan pikiran tidak dilibatkan. Dzikir dalam tahap seperti ini merupakan dzikir level pertama. Namun, tingkatan dzikir inipun sudah mendapatkan pahala dari Allah SWT. 

Tingkatan kedua, adalah dzikir dengan pikiran. Dimana pikiran mengarah kepada apa yang diucapkan dan memikirkan apa yang diucapkan. Misalnya saat kita mengerti akan bacaan lafaz yang kita ucapkan. Tetapi pengertian itu berhenti sebatas ingatan kita. Tetapi kita tidak meresapi hingga menjadikan ingatan itu sebaga kesadaran. 

Dzikir tingkat ketiga, adalah dzikir dengan hati. Dzikir ini merupakan tingkatan yang lebih tinggi dari dzikir pikiran. Karena, hati secata otomatis dapat mengaktifkan dzikir pikiran tetapi tidak sebaliknya. Jika saya mengamati yang dimaksud dzikir dalam tingkatan hati ini adalah dzikir yang lembut “lathif” yang hingga menggetarkan hati. 

Sedangkan, dzikir yang ke empat adalah dzikir kesadaran. Dzikir inilah yang sering diidentikkan dengan ihsan. Ihsan adalah keadaan berdzikir dimana seseorang merasa sedang menghadap Allah. Merasa sedang memuji Allah dengan segenap kesadaran. Sehingga yang namanya orang yang sedang sadar maka ia tidak akan lalai lagi atau ia kembali kedalam kekufuran dan melakukan perbuatan maksiat. Orang yang ihsan tidak akan berbuat dholim. Perbuatan dholim yang seperti apa yang biasanya kerap sekali masih kita lakukan. Misalnya, kurang memperhatikan suami dengan baik. Kurang bisa memenuhi segala kebutuhannya dengan baik misalnya dengan jadwal makannya dan segala keperluan pribadinya. 

Adapun dholim dengan diri sendiri, misalnya terlalu banyak menghabiskan waktu untuk hal hal yang tidak bermanfaat hingga tidak fokus akan target yang ingin dicapai. Hal inilah yang masih menjadi evaluasi saya dalam tantangan melatih kecerdasan spiritual pada hari ke empat ini. Sehingga jika dinilai maka tingkatan dzikir yang dilakukan masih belum dalam taraf dzikir kesadaran. Sedangkan untuk suami sebagai partner saya dalam meningkatkan kecerdasan spiritual ini, lebih mempraktekkan dzikir nafas saat selesai sholat. Ia meluangkan waktu untuk fokus dan melatih dzikir nafas. 

Dalam menghadapi partner hidup saya, saya mencoba untuk lebih fokus dalam perbaikan saya pribadi. Dan saya yakin bahwa disaat saya berhasil berhijrah menjadi pribadi yang lebih baik maka begitu pula dengan suami. Hal ini adalah sunatullah. Sebaliknya, jika saya lalai maka suami saya pun kondisi ruhnya tak akan jauh berbeda. Untuk itu, saya tidak pernah mengeluh atas sikap suami. Lebih baik saya mengaca pada diri saya sendiri dan berlatih terus meningkatkan kecerdasan Spiritual saya. 

Iklan
Diposkan pada Artikel, Kuliah Bunda Sayang, melatih kecerdasan spiritual, Tantangan 10 Hari

Melatih Kecerdasan Spiritual #Dzikir Nafas #day3

Dzikir nafas adalah dzikir kesadaran yang menggunakan nafas, sebagai lafaznya menggunakan lafaz “Huu Allah”. Sebuah metode dzikir dengan mengikuti irama keluar masuknya nafas. Alasan menggunakan lafaz Huu dan Allah adalah seperti yang tercantum dalam surat Al Ikhlas yang sering kita sebut dengan surat Qul Huu Allah. Huwa artinya Dia dan Allah artinya sebagai Tuhan kita.

“Secara hakikat Huwa berarti mengarah kepada kekosongan, karena Dia itu tiada. Kalimat Huwa dimaksudkan agar pikiran kita mengarah kepada yang bukan apa apa sehingga bisa lurus sesuai dengan sifat Allah yng laisa kamitslihi syaiun (Allah tidak sama dengan apapun). ” Setiyo Purwanto,2017.

Yang dimaksud dengan tidak sama dengan apapun berarti tidak ada dalam pikiran tapi ada dalam kesadaran. Dengan demikian, kesadaran inilah yang harus terus dilatih dalam dzikir nafas. Sebagai contoh dalam tantangan hari ke tiga yaitu saat kita merasa hilang semangat dikarenakan lelah atau jenuh dengan aktivitas kita maka jika kita sadar akan Allah dalam setiap nafas kita. Maka kita akan segera tersadar bahwa Allah lah yang Maha Pengatur dan Menggerakkan seluruh Alam Semesta. Sehingga tugas kita adalah patuh dan taat atas segala kehendakNya.

Dalam tantangan sepuluh hari mempraktikkan dzikir nafas memang gampang-gampang susah. Gampang karena sangat sederhana tetapi sulit jika kita tidak konsisten melatih sadar Allah. Ketidak konsistensi an ini paling besar dikarenakan oleh rasa malas sehingga kita tidak bersegera menjalankan amanah Allah.

Dalam kegiatan sehari-hari, jika kita sadar Allah maka bangun pagi kita harus amanah dengan tidak bermalas malasan dengan memainkan media sosial terrlebih dahulu. Amanah Allah adalah dengan kita beranjak bangun dan berdo’a. Setelah berdoa beranjak mengerjakan pekerjaan rumah, misalnya menyiapkan sarapan untuk suami. Jika kita mengamalkan dzikir nafas melatih kesadara kepada Allah, maka kita akan serasa selalu di bimbing oleh Allah untuk selalu melakukan hal hal yang baik.

Dari evaluasi di hari ketiga, saya belum bisa istiqomah. Karena tantangan meningkatkan kecerdasan spritual kali ini memang sangat pas dengan kondisi saya saat ini. Yang bisa diibaratkan dengan sebuah pil pahit untuk menghilangkan sakit demam. Tepatnya demam akan kelalaian di zona nyaman. Sampai hari ketiga ini, praktik dzikir nafas lebih maksimal saat dalam sholat sehingga bisa meningkatkan kesadaran kepada Allah.

 

 

Diposkan pada Artikel, Diary Kehidupan

Stand for My Choices

Tak heran jika Arvan Pradiansyah menyebutkan dalam bukunya To Be A Leader bahwa syarat utama menjadi pemimpin adalah mampu untuk membuat pilihan. Karena betapa beratnya hawa nafsu yang harus kita bendung untuk bisa membuat pilihan yang benar. Kadang seseorang bukannya tidak tahu jalan atau cara agar bisa sukses tetapi ia tidak mampu memilih jalan kesuksesan itu. Dia tahu mana jalan yang benar tetapi terlalu malas untuk menempuhnya, karena kita terlalu nyaman dengan kelalaian. Dan jika kita dalam kondisi ini, maka segeralah bergerak meninggalkan kenyamanan itu. Tetap bersama orang orang yang positif dan bersemangat untuk membantu kita dalam mengembalikan gairah beramanah. 

Tulisan ini adalah refleksi dari kegagalan membuat pilihan. Dimana kita membiarkan diri kita terlena dengan kenyamanan yang dibumbui dengan pembenaran dari kelalaian. Misalnya pembenaran dalam hal terlalu banyak menghabiskan waktu memutar film korea. Saya sendiri memang penikmat sebuah film. Menurut saya, tipe kepribadian saya bisa menikmati karya film lebih dibandingkan tipe kepribadian lainnya. Tidak hanya film korea, saya penggemar drama klasik Britania. Saya sudah memutar drama legendaris Pride and Prejudice mencapai hampir 50 kali dengan berbagai adaptasi mulai adaptasi tahun 1965 hingga yang terbaru tahun 2004. Oleh karena itu, dalam hasil test stifin pun menyebutkan adanya bakat di cinematography. Entah apa itu cinematography, tapi yang saya rasakan bahwa saya sangat menikmati sebuah film dan bisa sangat kritis membahas karya film.  

Dalam bentuk seperti apa pembenaran dalam diri saya sehingga saya terlarut dalam Korea Wave. Jika saya amati memang cukup banyak emak-emak kekinian zaman now seusia saya yang mungkin juga demam Korea. Jika Anda juga penggemar drama Korea pasti tahu seberapa menariknya drama-drama tersebut. Menurut saya, dalam hal perKorea-an ini saya sangat suka dengan penjelasan yang di sampaikan oleh anak dari Yusur Mansyur di Vlog nya. Wirda Mansyur mewakili remaja zaman now mengungkapkan kegundahannya tentang boleh tidaknya mengikuti Korean Wave misalnya menggemari drama atau K-Pop nya. Saya juga sangat sependapat dengannya dimana dia menyebutkan bahwa boleh boleh saja asal tetap ada manfaat yang bisa di ambil dan tidak berlebihan hingga melalaikan ibadah. Nah, tak semudah teori karena yang namamya drama dan kpop ini memang mengandung efek ketagihan. Jadi, terkadang sulit untuk bisa “move on” jika sudah ada drama yang menarik. 

Faedahnya, setelah selesai melihat satu drama yang bagus dan terkadang bisa membangkitkan motivasi untuk membuat karya. Misalnya, setelah melihat karya apik kisah perjuangan jaksa dalam film “while you were sleeping” saya bersemangat menulis kembali dan muncul banyak ide untuk merampungkan cerita yang pernah saya buat. Nah, gimana dengan demam K-Pop nya? Apakah juga ada manfaatnya? Saya mengikuti K-Pop karena tertarik dengan kepopuleran group band itu sendiri. Sehingga insting menginvestasi saya muncul kenapa bisa Kpop bisa menggeser artis Hollywood dan sangat digemari di benua Eropa dan Amerika “such a big phenomena”. Sebatas itu, dimana kita harus mengetahui batasan untuk tidak mengidolakan dan memutar musik-musiknya secara berlebihan. 

Meskipun demikian, tentunya kita selalu harus berusaha untuk meningkatkan keimanan. Sehingga walaupun kita menggemari film dan mengikuti perkembangan K-pop, kita tetap amanah dalam beribadah. Dan tentunya yang penting tidak lalai dengan menggemari yang membabi buta. Misalnya, saya sangat memilah dalam melihat drama korea karena tidak semua drama itu menarik bagi saya. Beberapa kriteria drama yang menarik menurut saya adalah berlatar belakang sejarah, alur yang menarik dan karaktermya kuat. Biasanya sebelum melihat saya selalu research terlebih dahulu mulai dari sinopsis, pemerannya hingga akhir cerita nya. Mungkin bagi sebagian penikmat film lainnya saya sangat menyebalkan. Karena biasanya mereka suka jika menonton dengan rasa penasaran. Tapi kalau saya tidak, saya suka baca endingnya dulu.  Drama favorit saya tidak banyak hanya jang geum, dong yi, dan princess man, karena memang sekali lagi sepertinya selera saya melihat film sangat tinggi. Dan jika saya sudah suka film itu saya bisa mengulang melihat nya puluhan kali. Dan jika saya sudah tidak suka dengan alur ceritanya saya sudah tidak melanjutkan lagi melihat episode selanjutnya cukup dengan membaca sinopsis nya saja hingga akhir cerita. 

Jadi, “stand for my choice” semoga selalu bisa istiqomah selalu dalam kebaikan. Walaupun memang keimanan itu ada kalanya naik turun. Dengan selalu belajar dari pengalaman sehingga walaupun sedang futur kita tetap amanah dan bisa mengambil setiap hikmah perjalanan hidup kita. 

Diposkan pada Artikel, Diary Kehidupan, Motivasi Bisnis

Memulai Dari Yang Kau Bisa

Adalah wajar dalam memulai bisnis kita akan mengalami proses jatuh bangun. Sekurang-kurangnya seseorang yang merintis bisnisnya akan bisa menikmati hasilnya dalam waktu dua hingga lima tahun kemudian. Tidak berhenti di situ, bisnis adalah kehidupan. Kapan kita berhenti belajar dana berusaha? Seluruh waktu dalam kehidupan adalah tempat belajar dan berusaha yang tiada ujung selama nafas masih terhembus. 

Salah satu pelajaran berharga setelah tahunan merintis bisnis, satu hal ilmu yang baru membasahi dada ini, yaitu mulailah bisnismu dari hal yang sederhana. Artinya lakukan mulai dari sesuatu yang bisa kamu lakukan sendiri. Sesuatu yang sangat mudah untuk kita lakukan. Hindari memulai bisnis yang sulit kita lakukan sendiri. 

Dan hal inilah, kesalahan yang pernah saya lakukan. Saya memulai bisnis kuliner yang butuh campur tangan orang lain. Dan saya tidak bisa melakukan nya jika saya sendirian. Misalnya, urusan gerobak saya harus meminta bantuan suami untuk urusan angkut gerobak. Dan jika suami sedang sibuk maka otomatis target bisnis akan terkendala. 

Selain itu, bisnis kuliner ini saya juga sangat bergantung kepada karyawan pramusaji saya. Saya kurang cakap dan percaya diri menjaga gerobak sendiri. Alhasil, jika karyawan ini kegiatan bisnis pun akan tutup. 

Syukurlah masa masa itu memang sudah terlewatkan, sekarang suami akan ikut fokus ke bisnis kuliner yang pastinya akan mempercepat perkembangan bisnis. Dan sekarang sedikit demi sedikit karyawan terbangun motivasinya untuk ikut merasakan kepemilikan atas usaha bersama ini. 

Tapi, alangkah baiknya jika sejak awal membangun bisnis saya menyadari hal ini, mungkin tak perlu waktu hingga empat tahun ini untuk bisa merasakan sebuah kesuksesan. 

Tapi, dilain pihak yang terpenting adalah kita tidak terlalu takut untuk memulai. Kadang terlalu banyak pertimbangan membuat kita sulit bergerak.

Diposkan pada Artikel, institut ibu profesional, Kuliah Bunda Sayang, melatih kemandirian, Tantangan 10 Hari

Perbekalan Manajemen Waktu #Latihan Kemandirian10

Sampailah kita pada tantangan hari ke sepuluh, dimana saya menemukan ide untuk memperkuat manajemen waktu. Dalam kesempatan tantangan 10 hari memang saya optimalkan untuk membasah skill dalam manajemen waktu yang dari awal seri tulisan saya menyebutnya “konsistensi melakukan daily planning”. 

Daily planning pada dasarnya adalah alat untuk manajemen waktu. Setelah banyak belajar dan merenungkan di masa tantangan sepuluh hari ini, akhirnya saya menyimpulkan untuk membuat perlengkapan apa saja yang saya butuhkan agar bisa konsisten melakukan manajemen waktu yang baik.

Perlengkapan yang bisa membantu saya adalah yang pertama, kandang waktu. Kandang waktu adalah semacam kegiatan harian yang sudah paten, artinya kegiatan tersebut adalah kegiatan kegiatan yang pasti dilakukan sehari-hari. Misalnya, sholat lima waktu, dzikir pagi dan petang dan sholat sunnah. Sedangkan untuk kegiatan yang pastu dilakukan lainnya yang bersifat fitrah fisik misalnya mandi, makan dan membersihkan rumah. Jika di hubungkan kembali dengan pelajaran sebelumnya yaitu dalam perlengkapan pertama ini adalah membangun kebutuhan fisik (to live) dan spiritual ( to leaving a legacy) 

Perlangkapan yang ke dua, adalah goal maker. Perbedaan dari kandang waktu. Goal maker berupa kegiatan-kegiatan yang tertarget secara spesifik waktu yang diperlukan. Goal maker berupa to do list yang berupa kegiatan yang bisa berubah-ubah sedangkan kandang waktu selalu sama. 

Diposkan pada Artikel, institut ibu profesional, Kuliah Bunda Sayang, melatih kemandirian, Tantangan 10 Hari

Rahasia Motivasi #Latihan Kemandirian9 

Jika di tulisan sebelumnya, kita belajar bahwa rahasia dari disiplin adalah motivasi. Maka dalam tulisan kali ini, kita akan belajar bahwa rahasia dari motivasi adalah kebutuhan. 

Dasar dari sebuah motivasi adalah kebutuhan (needs). Orang yang mempunyai kebutuhan pasti akan terdorong untuk memenuhi kebutuhan tersebut. 

Stephen R. Covey mengemukakan bahwa ada empat kebutuhan manusia yaitu kebutuhan fisik (to live), sosial emosional ( to love), mental ( to learn), dan spiritual ( to leave legacy).

Jadi,untuk mencapai disiplin kita bisa memulainya dengan memupuk motivasi. Yang mana motivasi bisa timbul jika kita mempunya harapan kebutuhan. Harapan kebutuhan ini biasa kita sebut mimpi atau impian. Oleh karena itu ada kata bijak bahwa “dream create the future”, mimpi besar bisa mengantarkan kita kepada masa depan. Berani bermimpi dan pupuk motivasi yang tinggi. 

Sebagai contoh apa yang sudah saya rasakan pada tantangan hari ke sembilan berlatih mandiri. Dengan menjaga motivasi ternyata sangat efektif membuat saya selalu bergerak positif sepanjang hari. Mulai dari berdamai dengan diri sendiri, tidak menyalahkan diri sendiri. Mulai memupuk percaya diri dan mula bermimpi. Menuliskan kembali impian kita yang belum tercapai. 

Sehingga muncul ide-ide kreatif yang bisa menjadi solusi mengatur waktu yang lebih efektif untuk kemudian hari. Di tantangan hari ke sembilan, semua amanah dikerjakan tepat waktu. 

Evaluasi untuk daily planning, pada tantangan sepuluh hari ini. Terkait target yang saya tentukan ada dua poin yang tidak tercapai. Yang pertama adalah poin dzikir dan program bahasa. Yang mungkin dikarenaka saya memasang target yang terlalu tinggi sehingga tidak bisa saya penuhi. Sehingga untuk tetap menjaga motivasi, saya harus selalu positif dan berpikir ke depan, dengan berhenti menyalahkan keadaan.

Diposkan pada Artikel

Kesadaran Dalam Amanah #Goal maker 2 #Latihan Kemandirian 4

Manusia adalah makhluk yang lemah tanpa daya. Segala yang melekat pada dirinya adalah fasilitas dari  Tuhan Yang Maha Esa. Mulai dari kaki yang digunakan untuk berjalan menuju tempat kerja, pikiran sehat  yang juga disediakan oleh Allah hingga pekerjaan yang ia miliki saat ini. Semuanya sudah tersedia,  sehingga manusia hanya bertugas menjalankan amanah yang di berikan oleh Allah. 

Untuk itu, jika manusia memiliki kesadaran akan amanah dari Allah di setiap langkah yang ia kerjakan sehari-hari maka hasilnya dari kerjanya akan sangat luar biasa. Bahkan energi yang akan ia gunakan bukanlah daya dari diri manusia yang lemah, akan tetapi ia akan bergerak dengan daya yang besar, yakni daya dari yang Maha Pencipta. 

Sehingga bisa disebut bahwa manusia sebenarnya tidak perlu berusaha. Manusia hanya butuh sadar akan amanah yang telah diberikan oleh Allah. Maka alur proses berbuat manusia adalah dimulai dari Sadar Allah >>> Amanah >>> Berbuat.

Sadar Allah adalah Ihsan, merasa selalu dalam pengawasan Allah. Oleh karena itu, ia selalu ikhlas dalam beramal. Sedangkan, amanah adalah Sami’na wa atho’na yaitu kami dengar dan kami patuh. Yang hanya perlu kita lakukan adalah amanah dalam kehidupan kita. Belajar adalah amanah. Menjadi seorang istri dan ibu adalah amanah. Menjadi seorang anak agar berbakti kepada orang tua adalah amanah. Maka jika kita sudah mendengar perintah Allah maka kita harus patuh dan taat melaksanakannya. Yang mana pelaksanaan amanah ini juga diperlukan sifat itqon yaitu sesuai dengan tuntunan Allah.

Allah menyukai menyambut kebaikan atau amanah Allah dilakukan dengan bergegas tidak menunda nunda. Tapi juga tidak tergesa gesa, karena ketergesaan datangnya dari setan. Maka motto pada tantangan kali ini adalah Just Do it, Dont Delay!! sami’na wa atho’na ( kami mendengan dan kami taat).? Semoga dengan semangat ini bisa menyembuhkan kelemahan besar saya yaitu suka menunda perkerjaan dan bagus di kesempatan terakhir. 

Kali ini, review goal maker di hari ke dua dalam tantangan hari ke empat, saya masih di pelatihan sampai siang dan diperjalan pulang solo ke Jombang selama hampir 8 jam. Sehingga, saya belum bisa mengatur jadwal harian dengan kegiatan normal seperti hari-hari biasa. Untuk memenuhi kolom learn english, saya masih bisa dengan mendengarkan beberapa lagu bahasa Inggris yang bisa membantu meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris. Sedangkan pada kolom dzikir kurang maksimal dan tidak memenuhi jumlah target 30 menit perhari. 

#hari4

#kuliahbundsay

#melatih kemandirian

#iip