Diposkan pada Artikel, Kuliah Bunda Sayang, melatih kecerdasan spiritual, Tantangan 10 Hari

Melatih Kecerdasan Spiritual #Dzikir Nafas #day3

Dzikir nafas adalah dzikir kesadaran yang menggunakan nafas, sebagai lafaznya menggunakan lafaz “Huu Allah”. Sebuah metode dzikir dengan mengikuti irama keluar masuknya nafas. Alasan menggunakan lafaz Huu dan Allah adalah seperti yang tercantum dalam surat Al Ikhlas yang sering kita sebut dengan surat Qul Huu Allah. Huwa artinya Dia dan Allah artinya sebagai Tuhan kita.

“Secara hakikat Huwa berarti mengarah kepada kekosongan, karena Dia itu tiada. Kalimat Huwa dimaksudkan agar pikiran kita mengarah kepada yang bukan apa apa sehingga bisa lurus sesuai dengan sifat Allah yng laisa kamitslihi syaiun (Allah tidak sama dengan apapun). ” Setiyo Purwanto,2017.

Yang dimaksud dengan tidak sama dengan apapun berarti tidak ada dalam pikiran tapi ada dalam kesadaran. Dengan demikian, kesadaran inilah yang harus terus dilatih dalam dzikir nafas. Sebagai contoh dalam tantangan hari ke tiga yaitu saat kita merasa hilang semangat dikarenakan lelah atau jenuh dengan aktivitas kita maka jika kita sadar akan Allah dalam setiap nafas kita. Maka kita akan segera tersadar bahwa Allah lah yang Maha Pengatur dan Menggerakkan seluruh Alam Semesta. Sehingga tugas kita adalah patuh dan taat atas segala kehendakNya.

Dalam tantangan sepuluh hari mempraktikkan dzikir nafas memang gampang-gampang susah. Gampang karena sangat sederhana tetapi sulit jika kita tidak konsisten melatih sadar Allah. Ketidak konsistensi an ini paling besar dikarenakan oleh rasa malas sehingga kita tidak bersegera menjalankan amanah Allah.

Dalam kegiatan sehari-hari, jika kita sadar Allah maka bangun pagi kita harus amanah dengan tidak bermalas malasan dengan memainkan media sosial terrlebih dahulu. Amanah Allah adalah dengan kita beranjak bangun dan berdo’a. Setelah berdoa beranjak mengerjakan pekerjaan rumah, misalnya menyiapkan sarapan untuk suami. Jika kita mengamalkan dzikir nafas melatih kesadara kepada Allah, maka kita akan serasa selalu di bimbing oleh Allah untuk selalu melakukan hal hal yang baik.

Dari evaluasi di hari ketiga, saya belum bisa istiqomah. Karena tantangan meningkatkan kecerdasan spritual kali ini memang sangat pas dengan kondisi saya saat ini. Yang bisa diibaratkan dengan sebuah pil pahit untuk menghilangkan sakit demam. Tepatnya demam akan kelalaian di zona nyaman. Sampai hari ketiga ini, praktik dzikir nafas lebih maksimal saat dalam sholat sehingga bisa meningkatkan kesadaran kepada Allah.

 

 

Iklan
Diposkan pada institut ibu profesional, Kuliah Bunda Sayang, melatih kecerdasan spiritual, Tantangan 10 Hari

Melatih Kecerdasan Spiritual #Dzikir Nafas #day2

Dzikir adalah hal yang sangat penting, sehingga kita harus benar benar mempelajari dan mempraktikkan nya. Dzikir mengingat Allah harus selalu kita lakukan dan terus menerus dilatih dan ditempa. Tentunya dengan adanya tantangan sepuluh hari ini menjadi wadah yang tepat untuk berlatih memupuk kesadaran Allah. 

Kesadaran akan Allah akan membawa perubahan pada perilaku kita. Jika kita menyadari bahwa Allah ada dekat kita, maka kita senantiasa akan berusaha untuk amanah menjalankan apa yang diperintahkan dan berusaha untuk menjauhi apa apa yang dilarang Nya. 

Ada sebuah contoh kisah seorang penggembala kambing yang diuji kejujurannya oleh sahabat Nabi, Sayyidina Umar Bin Khatab Ra. si anak penggembala kambing itu ditawari sejumlah uang oleh Sayyidina Umar, jika ia mau memberikan satu ekor saja dari begitu banyak kambing yang sedang ka gembalakan. Sayyidina Umar membujuk kalau satu ekor saja kambing itu diserahkan kepadanya, tuannya pasti tidak akan tahu. 

Tapi si pemggembala justru menolak permintaan Sayyidina Umar. Si penggembala kambing yang sadar Allah berada didekatnya mengatakan kepada Sayyidina Umar, bahwa ia tidak mungkin menyerahkan kambinh itu, karena Allah pasti mengetahui perbuatannya. 

Maka dengan contoh dari implementasi dzikir dalam sehari hari diatas, pada tantangan latihan dzikir nafas hari kedua, yaitu mulai memperbanyak sadar Allah dalam kegiatan sehari hari. Misalnya saat berangkat naik motor untuk mengantarkan bahan ke gerobak takoyaki, disepanjang jalan melihat indahnya langit dan kondisi sekitar kita mengingat Allah dan memperbanyak syukur. 

Dengan dzikir nafas membuat segala aktifitas kita sehari hari adalah bernilai ibadah. Karena dzikir adalah ruh dari badah. “Amalan ibadah yang terbaik adalah amalan yang paling banyak berdzikir kepada Allah”. 

Dalam surat Ali Imran 191, “yaitu orang orang yang memyadari Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan bertafakur tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):’Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka perihalah kami dari siksa neraka”. 

Dijelaskan bahwa hendaknya kita berdiri, duduk dan berbaring diperintahkan oleh Allah dengan berdzikir. Maka jika disimpulkan kegiatan manusia memang dibagi tiga gerakan jika tidak berdiri maka ia duduk. Jika tidak duduk maka mereka sedang berdiri atau sedang berbaring. Sehingga hal ini mengajarkan kita untuk dalam kondisi apapun (dudu, berdiri atau berbaring) kita bisa berdzikir kepada Allah. 

Dzikir nafas bukan hal baru, beberapa guru yang saya jumpai sebelum menikah sudah mengajarkan tentang berdzikir dengan metode jalannya nafas. Tetapi memang untuk mengamalkannya bukanlah hal yang mudah. Perlu jiwa yang bersih dan fokus kepada Allah untuk bisa senantiasa berdzikir. Untuk itu dalam latihan meningkatkan kecerdasan spiritual dalam tantangan sepuluh hari ini target saya bisa sadar Allah dalam kegiatan sehari hari sehingga bisa amanah mengerjakan tugas. 

Misalnya di hari ke dua, memulai diet media sosial dan berusaha semaksimal mungkin bersegera menyelesaikan pekerjaan. Meskipun masih belum sempurna meninggalkan media sosial yang beberapa kurang bermanfaat misalnya update tentang per-Korea-an. Semoga sedikit demi sedikit kegiatan yang tidak bermanfaat bisa ditinggalkan dan mungkin bisa dialihkan menjadi hobi yang bermanfaat jika memang da minat dan bakat saya yang berkaitan dengan movie atau fenomena Korea Wave. 

Sumber Referensi : Dzikir Nafas, Setiyo Purwanto, 2017. 

Diposkan pada Catatan Kajian, institut ibu profesional, Kuliah Bunda Sayang, melatih kecerdasan spiritual, Tantangan 10 Hari

Melatih Kecerdasan Spiritual #Dzikir Nafas #Day1

Melakukan tantangan sepuluh hari melatih kecerdasan bersama anggota keluarga menjadi ajang perubahan membuang kebiasaan buruk menjadi lebih baik lagi. Kebiasaan buruk misalnya adalah bermalas malasan, berdiam diri atau melakukan kegiatan yang tidak berfaedah. Kenapa? Karena kita akan dituntut untuk berlatih setiap hari melakukan kegiatan yang bisa melatih kecerdasan kita di segala aspek, misalnya dari sisi kecerdasan spiritual, intelektual, emosional dan menghadapi tantangan. 

Butuh waktu lama hingga saya menuliskan laporan tantangan meningkatkan kecerdasan spiritual ini, karena saya termasuk orang yang mempunyai cara belajar menangkap makna. Bisa dibilang idealis dalam mengerjakan sebuah tugas. Apalagi sebuah “challenge” meningkatkan spiritual. 

Langkah pertama, saya mengevalusi kondisi saya dalam ranah kecerdasan spiritual. Kenapa saya memilih kecerdasan spiritual untuk challenge ini? Karena dalam anggota keluarga inti saya hanya ada saya dan suami dan dari keempat kecerdasan, kecerdasan spiritual adalah bagian yang sangat penting untuk bisa menjadi manusia yang amanah dan istiqomah. 

Pilihan kegiatan sepuluh hari yang terpikirkan yang pertama adalah tantangan untuk melakukan target amalan ibadah untuk meningkatkan kecerdasan spiritual. Tetapi cek list amalan seperti ini sudah biasa kita lakukan sehingga kurang ada greget perubahannya. 

Berhubung akhir akhir ini kita berdua sedang belajar dalam sebuah jama’ah metode dzikir nafas, maka kita memutuskan untuk membuatnya menjadi tantangan sepuluh hari meningkatkan kecerdasan spiritual. Dan tulisan ini adalah evaluasi hari pertama tantangan meningkatkan kecerdasan spiritual dengan dzikir nafas. 

Dzikir adalah kesadaran akan Allah, yaitu Allah yang dekat yang Maha Meliputi Segala Sesuatu atau Al-Muhiith. Kitab suci Alquran sangat jelas menyebut bahwa Allah itu dekat. Bahkan, tingkat kedekatan ini digambarkan dengan ungkapan “lebih dekat dari urat leher”. Ini menunjukkan bahwa Allah memang sangat dekat dengan hambaNya. 

Ketika kita menjalankan perintah Al-Qur’an ini tentunya kita tidak bisa menggunakan indera mata untuk bisa melihat kedekatan kita dengan Allah. Kita pun tidak bisa berfikir bahwa posisi Allah lebih dekat dari urat leher kita. Kita hanya mampu menangkap kedekatan itu dengan kesadaran kita. Inilah makna dzikir yaitu sadar bahwa Allah berada dekat dengan kita setiap saat. Sehingga kita akan bisa menggapai makna dari ihsan yaitu merasa selalu diawasi oleh Allah disetiap langkah kita. 

Dzikir kepada Allah yang penting dan harus selalu kita lakukan adalah dzikir ketika kita sedang mengerjakan sholat. Kesadaran terhadap Allah dimulai sejak awal ketika ‘takbir’ hingga ‘salam’ ketika menutup sholat kita. Ini adalah hal yang sangat mendasar dan haruslah diutamakan, karena Allah perintah Allah terkait ubadah sholat berbunyi: “Dirikanlah Sholat untuk dzikir kepadaKu!”. Untuk itu, dihari pertama ini kita berlatih fokus dalam sholat dengan langkah awal dzikir nafas yaitu dengan memperhatikan nafas. 

Sumber Referensi : Dzikir Nafas, Setiyo Purwanto, 2017. 

Diposkan pada Artikel, Diary Kehidupan

Stand for My Choices

Tak heran jika Arvan Pradiansyah menyebutkan dalam bukunya To Be A Leader bahwa syarat utama menjadi pemimpin adalah mampu untuk membuat pilihan. Karena betapa beratnya hawa nafsu yang harus kita bendung untuk bisa membuat pilihan yang benar. Kadang seseorang bukannya tidak tahu jalan atau cara agar bisa sukses tetapi ia tidak mampu memilih jalan kesuksesan itu. Dia tahu mana jalan yang benar tetapi terlalu malas untuk menempuhnya, karena kita terlalu nyaman dengan kelalaian. Dan jika kita dalam kondisi ini, maka segeralah bergerak meninggalkan kenyamanan itu. Tetap bersama orang orang yang positif dan bersemangat untuk membantu kita dalam mengembalikan gairah beramanah. 

Tulisan ini adalah refleksi dari kegagalan membuat pilihan. Dimana kita membiarkan diri kita terlena dengan kenyamanan yang dibumbui dengan pembenaran dari kelalaian. Misalnya pembenaran dalam hal terlalu banyak menghabiskan waktu memutar film korea. Saya sendiri memang penikmat sebuah film. Menurut saya, tipe kepribadian saya bisa menikmati karya film lebih dibandingkan tipe kepribadian lainnya. Tidak hanya film korea, saya penggemar drama klasik Britania. Saya sudah memutar drama legendaris Pride and Prejudice mencapai hampir 50 kali dengan berbagai adaptasi mulai adaptasi tahun 1965 hingga yang terbaru tahun 2004. Oleh karena itu, dalam hasil test stifin pun menyebutkan adanya bakat di cinematography. Entah apa itu cinematography, tapi yang saya rasakan bahwa saya sangat menikmati sebuah film dan bisa sangat kritis membahas karya film.  

Dalam bentuk seperti apa pembenaran dalam diri saya sehingga saya terlarut dalam Korea Wave. Jika saya amati memang cukup banyak emak-emak kekinian zaman now seusia saya yang mungkin juga demam Korea. Jika Anda juga penggemar drama Korea pasti tahu seberapa menariknya drama-drama tersebut. Menurut saya, dalam hal perKorea-an ini saya sangat suka dengan penjelasan yang di sampaikan oleh anak dari Yusur Mansyur di Vlog nya. Wirda Mansyur mewakili remaja zaman now mengungkapkan kegundahannya tentang boleh tidaknya mengikuti Korean Wave misalnya menggemari drama atau K-Pop nya. Saya juga sangat sependapat dengannya dimana dia menyebutkan bahwa boleh boleh saja asal tetap ada manfaat yang bisa di ambil dan tidak berlebihan hingga melalaikan ibadah. Nah, tak semudah teori karena yang namamya drama dan kpop ini memang mengandung efek ketagihan. Jadi, terkadang sulit untuk bisa “move on” jika sudah ada drama yang menarik. 

Faedahnya, setelah selesai melihat satu drama yang bagus dan terkadang bisa membangkitkan motivasi untuk membuat karya. Misalnya, setelah melihat karya apik kisah perjuangan jaksa dalam film “while you were sleeping” saya bersemangat menulis kembali dan muncul banyak ide untuk merampungkan cerita yang pernah saya buat. Nah, gimana dengan demam K-Pop nya? Apakah juga ada manfaatnya? Saya mengikuti K-Pop karena tertarik dengan kepopuleran group band itu sendiri. Sehingga insting menginvestasi saya muncul kenapa bisa Kpop bisa menggeser artis Hollywood dan sangat digemari di benua Eropa dan Amerika “such a big phenomena”. Sebatas itu, dimana kita harus mengetahui batasan untuk tidak mengidolakan dan memutar musik-musiknya secara berlebihan. 

Meskipun demikian, tentunya kita selalu harus berusaha untuk meningkatkan keimanan. Sehingga walaupun kita menggemari film dan mengikuti perkembangan K-pop, kita tetap amanah dalam beribadah. Dan tentunya yang penting tidak lalai dengan menggemari yang membabi buta. Misalnya, saya sangat memilah dalam melihat drama korea karena tidak semua drama itu menarik bagi saya. Beberapa kriteria drama yang menarik menurut saya adalah berlatar belakang sejarah, alur yang menarik dan karaktermya kuat. Biasanya sebelum melihat saya selalu research terlebih dahulu mulai dari sinopsis, pemerannya hingga akhir cerita nya. Mungkin bagi sebagian penikmat film lainnya saya sangat menyebalkan. Karena biasanya mereka suka jika menonton dengan rasa penasaran. Tapi kalau saya tidak, saya suka baca endingnya dulu.  Drama favorit saya tidak banyak hanya jang geum, dong yi, dan princess man, karena memang sekali lagi sepertinya selera saya melihat film sangat tinggi. Dan jika saya sudah suka film itu saya bisa mengulang melihat nya puluhan kali. Dan jika saya sudah tidak suka dengan alur ceritanya saya sudah tidak melanjutkan lagi melihat episode selanjutnya cukup dengan membaca sinopsis nya saja hingga akhir cerita. 

Jadi, “stand for my choice” semoga selalu bisa istiqomah selalu dalam kebaikan. Walaupun memang keimanan itu ada kalanya naik turun. Dengan selalu belajar dari pengalaman sehingga walaupun sedang futur kita tetap amanah dan bisa mengambil setiap hikmah perjalanan hidup kita. 

Diposkan pada Artikel, Diary Kehidupan, Motivasi Bisnis

Memulai Dari Yang Kau Bisa

Adalah wajar dalam memulai bisnis kita akan mengalami proses jatuh bangun. Sekurang-kurangnya seseorang yang merintis bisnisnya akan bisa menikmati hasilnya dalam waktu dua hingga lima tahun kemudian. Tidak berhenti di situ, bisnis adalah kehidupan. Kapan kita berhenti belajar dana berusaha? Seluruh waktu dalam kehidupan adalah tempat belajar dan berusaha yang tiada ujung selama nafas masih terhembus. 

Salah satu pelajaran berharga setelah tahunan merintis bisnis, satu hal ilmu yang baru membasahi dada ini, yaitu mulailah bisnismu dari hal yang sederhana. Artinya lakukan mulai dari sesuatu yang bisa kamu lakukan sendiri. Sesuatu yang sangat mudah untuk kita lakukan. Hindari memulai bisnis yang sulit kita lakukan sendiri. 

Dan hal inilah, kesalahan yang pernah saya lakukan. Saya memulai bisnis kuliner yang butuh campur tangan orang lain. Dan saya tidak bisa melakukan nya jika saya sendirian. Misalnya, urusan gerobak saya harus meminta bantuan suami untuk urusan angkut gerobak. Dan jika suami sedang sibuk maka otomatis target bisnis akan terkendala. 

Selain itu, bisnis kuliner ini saya juga sangat bergantung kepada karyawan pramusaji saya. Saya kurang cakap dan percaya diri menjaga gerobak sendiri. Alhasil, jika karyawan ini kegiatan bisnis pun akan tutup. 

Syukurlah masa masa itu memang sudah terlewatkan, sekarang suami akan ikut fokus ke bisnis kuliner yang pastinya akan mempercepat perkembangan bisnis. Dan sekarang sedikit demi sedikit karyawan terbangun motivasinya untuk ikut merasakan kepemilikan atas usaha bersama ini. 

Tapi, alangkah baiknya jika sejak awal membangun bisnis saya menyadari hal ini, mungkin tak perlu waktu hingga empat tahun ini untuk bisa merasakan sebuah kesuksesan. 

Tapi, dilain pihak yang terpenting adalah kita tidak terlalu takut untuk memulai. Kadang terlalu banyak pertimbangan membuat kita sulit bergerak.

Diposkan pada Artikel, institut ibu profesional, Kuliah Bunda Sayang, melatih kemandirian, Tantangan 10 Hari

Perbekalan Manajemen Waktu #Latihan Kemandirian10

Sampailah kita pada tantangan hari ke sepuluh, dimana saya menemukan ide untuk memperkuat manajemen waktu. Dalam kesempatan tantangan 10 hari memang saya optimalkan untuk membasah skill dalam manajemen waktu yang dari awal seri tulisan saya menyebutnya “konsistensi melakukan daily planning”. 

Daily planning pada dasarnya adalah alat untuk manajemen waktu. Setelah banyak belajar dan merenungkan di masa tantangan sepuluh hari ini, akhirnya saya menyimpulkan untuk membuat perlengkapan apa saja yang saya butuhkan agar bisa konsisten melakukan manajemen waktu yang baik.

Perlengkapan yang bisa membantu saya adalah yang pertama, kandang waktu. Kandang waktu adalah semacam kegiatan harian yang sudah paten, artinya kegiatan tersebut adalah kegiatan kegiatan yang pasti dilakukan sehari-hari. Misalnya, sholat lima waktu, dzikir pagi dan petang dan sholat sunnah. Sedangkan untuk kegiatan yang pastu dilakukan lainnya yang bersifat fitrah fisik misalnya mandi, makan dan membersihkan rumah. Jika di hubungkan kembali dengan pelajaran sebelumnya yaitu dalam perlengkapan pertama ini adalah membangun kebutuhan fisik (to live) dan spiritual ( to leaving a legacy) 

Perlangkapan yang ke dua, adalah goal maker. Perbedaan dari kandang waktu. Goal maker berupa kegiatan-kegiatan yang tertarget secara spesifik waktu yang diperlukan. Goal maker berupa to do list yang berupa kegiatan yang bisa berubah-ubah sedangkan kandang waktu selalu sama. 

Diposkan pada Artikel, institut ibu profesional, Kuliah Bunda Sayang, melatih kemandirian, Tantangan 10 Hari

Rahasia Motivasi #Latihan Kemandirian9 

Jika di tulisan sebelumnya, kita belajar bahwa rahasia dari disiplin adalah motivasi. Maka dalam tulisan kali ini, kita akan belajar bahwa rahasia dari motivasi adalah kebutuhan. 

Dasar dari sebuah motivasi adalah kebutuhan (needs). Orang yang mempunyai kebutuhan pasti akan terdorong untuk memenuhi kebutuhan tersebut. 

Stephen R. Covey mengemukakan bahwa ada empat kebutuhan manusia yaitu kebutuhan fisik (to live), sosial emosional ( to love), mental ( to learn), dan spiritual ( to leave legacy).

Jadi,untuk mencapai disiplin kita bisa memulainya dengan memupuk motivasi. Yang mana motivasi bisa timbul jika kita mempunya harapan kebutuhan. Harapan kebutuhan ini biasa kita sebut mimpi atau impian. Oleh karena itu ada kata bijak bahwa “dream create the future”, mimpi besar bisa mengantarkan kita kepada masa depan. Berani bermimpi dan pupuk motivasi yang tinggi. 

Sebagai contoh apa yang sudah saya rasakan pada tantangan hari ke sembilan berlatih mandiri. Dengan menjaga motivasi ternyata sangat efektif membuat saya selalu bergerak positif sepanjang hari. Mulai dari berdamai dengan diri sendiri, tidak menyalahkan diri sendiri. Mulai memupuk percaya diri dan mula bermimpi. Menuliskan kembali impian kita yang belum tercapai. 

Sehingga muncul ide-ide kreatif yang bisa menjadi solusi mengatur waktu yang lebih efektif untuk kemudian hari. Di tantangan hari ke sembilan, semua amanah dikerjakan tepat waktu. 

Evaluasi untuk daily planning, pada tantangan sepuluh hari ini. Terkait target yang saya tentukan ada dua poin yang tidak tercapai. Yang pertama adalah poin dzikir dan program bahasa. Yang mungkin dikarenaka saya memasang target yang terlalu tinggi sehingga tidak bisa saya penuhi. Sehingga untuk tetap menjaga motivasi, saya harus selalu positif dan berpikir ke depan, dengan berhenti menyalahkan keadaan.