Diposkan pada Artikel, Diary Kehidupan, institut ibu profesional, Kuliah Bunda Sayang, Tantangan 10 Hari

Pie of Time

Jika ada “Pie Of Life” maka ide ini adalah “Pie of Time”. Diagram yang berbentuk bulat seperti sebuah kue pie adalah salah satu ketrampilan matematika dalam menghitung sebuah persentase yang digambarkan dalam bentuk lingkaran penuh.

Diagram manajemen waktu yang dibuat penulis adalah hasil kontemplasi dalam bergulat dengan mengatur waktu sehari-hari. Dimana penulis adalah pekerja yang tidak terikat oleh institusi negeri atau swasta. Dengan kata lain, sebagai wirausaha, ia harus mengatur semua aktivitas nya sendiri tanpa ada pimpinan atau aturan organisasi yang memgaturnya. Oleh karena itu, sangat penting bagi penulis untuk bisa mengatur waktunya dengan efektif. Jika tidak, maka ia akan terlena dengan zona nyaman tanpa keterikatan sebagai pengusaha. Dan tidak disadarinya bahwa sebenarnya tantangannya dan pekerjaan jauh lebih banyak dan lebih besar tanggung jawabnya daripada pegawai pada umumnya.

Seperti apakah diagram tersebut? Lebih jelasnya seperti mungkin nantinya penulis akan membuat sebuah karya berupa desain gambar yang menarik sehingga bisa menambah motivasi untuk bisa melakukan jadwal kegiatan yang sudah di atur di diagram tersebut. Lebih menarik lagi nantinya diagram tersebut akan dipasang di elemen jam dinding sehingga memudahkan mengingat aktivitas apa yang seharusnya dilakukan.

Karena belum tersedianya gambar yang menarik. Maka saya dalam postingan ini akan medeskripsikan saja tentang bagaimana “pie of time” ini bekerja.

Seperti halnya jam dinding sehari kita memiliki 24 jam. Maka diagram ini memiliki 24 bagian. Dimana karena jika dihubungkan dengan kesamaan waktu sholat yang bisa membagi 2 waktu kita dalam sehari maka diagram kita buat menjadi 2 diagram sama persis. Kesamaan diagram pertama yang kita sebut diagram pagi dan diagram kedua kita sebut diagram petang. Nama ini terinspirasi dengan perintah agar setiap muslim selalu berdzikir disaat pagi dan petang.

Luar biasanya dua diagram tersebut bisa dibuat memiliki jam dan aktivitas yang sama jika di bagi berdasarkan waktu sholat wajib dan sholat sunnah. Membagi waktu berdasarkan waktu sholat terinspirasi oleh manajemen waktu ala Rasulullah. Dimana Rasulullah membagi kegiatannya berdasarkan pembagian waktu sholat.

#Tantangan10Hari

#Level6

#KuliahBunsay

#ILoveMath

#MathAroundUs

Iklan
Diposkan pada Artikel, Diary Kehidupan, institut ibu profesional, Kuliah Bunda Sayang

Mathematics Around Us

Matematika di sekitar kita. Ternyata banyak sekali kegiatan sehari-hari kita yang berkaitan dengan matematika. Dan kita sering kali tidak menyadari bahwa matematika itu sangat bermanfaat, sederhana dan menyenangkan. Penulis adalah generasi yang tidak atau kurang terangsang dengan pengenalan matematika yang menyenangkan. Akibatnya, matematika dianggap sebagai pelajaran yang sangat menakutkan dan membosankan. Padahal matematika adalah ketrampilan yang sangat menarik sekali jika kita sudah mengenalnya. Memang benar sekali kata pepatah tak kenal maka tak sayang. Untuk itu, saya tertantang untuk mengenal matematika yang lebih menyenangkan dan bermanfaat di sekitar kita. Agar supaya kita suka dan kita nantinya bisa membuat anak anak kita juga suka dengan matematika.

Aktivitas yang sering sekali saya lakukan sehari-hari sebagai istri atau ibu rumah tangga adalah memasak. Ternyata banyak sekali matematika sederhana yang bisa di asah dengan kegiatan memasak. Misalnya, kita menggunakan kemampuan matematika untuk memotong sayur sama panjang. Kita menggunakan matematika untuk mengelompokkan mana bahan bahan yang akan di masak dahulu dan bahan yang terakhir di masukkan ke dalam masakan. Kita juga menggunakan matematika untuk menghitung takaran bumbu yang di gunakan. Kita juga mengunakan matematika untuk menghitung waktu untuk memasak masing masing bahan masakan.

Demikian sederhananya untuk bisa memahami matematika di sekitar kita. Untuk itu, sebagai pengenalan terhadap matematika adalah bisa melalui matematika di sekitar kita yang sangat menarik dan bermanfaat untuk manusia. Sehingga, dengan memperkenalkan matematika yang menyenangkan akan membuat anak suka terlebih dahulu kepada matematika. Sebaliknya jika tanpa pengenalan yang menyenangkan dan membuat anak cinta kepada matematika, misalnya dengan mengajarkan secara langsung kepada persoalan matematika di atas kertas yang lebih terkesan membosankan. Maka metode belajar yang konvensional seperri ini bisa membuat anak semakin takut untuk belajar matematika. Sehingga bagaimana anak bisa menguasai pengetahuan matematika jika mereka saja tidak menyukai pelajaran tersebut.

Itulah contoh sedehana matemaika dalam kegiatan memasak. Dan pastinya masih banyak kegiatan sehari hari yang bisa melatih ketrampilan kita untuk berfikir matematis. Sebagai contoh lainnya adalah saat kita mencuci pakaian. Kita bisa memperkenalkan kegiatan mencuci yang berhubungan dengan matematika kepada anak anak. Yaitu dengan kegiatan menakar sabun cuci yang di butuhkan untuk mencuci dan hubungan perbandingan nya dengan berat atau jumlah cucian. Misalnya, jika satu kilo cucian maka sabun cuci yang digunakan adalah seratus gram sabun cuci, maka berapa sabun cuci yang dibutuhkan jika kita mencuci tiga kilo pakaian. Nah, bagaimana menarik sekali bukan.

#Tantangan10Hari

#Level6

#KuliahBunsay

#ILoveMath

#MathAroundUs

Diposkan pada Artikel, Diary Kehidupan, institut ibu profesional, Kuliah Bunda Sayang, Tantangan 10 Hari

Mentalical Mathematics for Life

“Mentalical Mathematics” dan kemudian kita sebut dengan mental matematika berbeda dengan logika matematika. Apakah perbedaannya? Disini di akui penulis memang masih sangat awam dalam hal ini karena keterbatasan bacaan. Dan postingan ini bertujuan sebagai pembuka wacana atau wawasan dan semoga bisa menjadi pemicu semangat penulis untuk lebih banyak belajar lagi.

Mental matematika lebih kepada karakter dasar yang perlu di miliki oleh seorang matematikawan sedangkan logika matematika adalah kemampuan atau senjata yang di gunakan.

Mental matematika ini tidak hanya digunakan saat memecahkan masalah matematika saja, karakter tersebut pastinya sangat berpengaruh dalam menghadapi persoalan dalam kehidupan sehari hari. Dengan demikian apa sajakah mental matematika itu? Beberapa diantara nya adalah…

Ketelitian, teliti adalah sikap dimana seseorang tidak tergesa-gesa dan sabar untuk bisa menyelesaikan sebuah masalah. Seseorang yang teliti dalam mengerjakan soal matematika pastinya orang tersebut adalah orang yang telaten dan sabar. Ibarat pepatah anak milenial adalah jika menghadapi soal matematika saja ia sabar dan telaten apalagi menghadapi kehidupan.

Ketekunan, tekun yang diamati oleh penulis dalam mental matematika adalah dimana seseorang yang bisa memecahkan soal matemika pasti ia adalah orang yang tidak malas dengan kata lain rajin untuk mengurai masalah matematika yang bertingkat tingkat demi menyederhanakan soal tersebut hingga menemukan jawaban yang benar.

Pantang menyerah, seseorang yang suka matematika pasti dia adalah orang yang pantang menyerah karena menemukan jawaban matematika tak jarang harus mengulang beberapa perhitungan atau rumus matekatika agar bisa menemukan jawaban yang benar. Jika matematikawan gagal di perhitungan yang pertama maka is pantang menyerah dan akan mencoba menghitung dengan cara yang lain agar dapat jawabat yang tepat.

#Tantangan10Hari

#Level6

#KuliahBunsay

#ILoveMath

#MathAroundUs

Diposkan pada Artikel

Ciri-Ciri Kinestetik #Hari10

Tibalah di pengamatan ke sepuluh pada tantangan sepuluh hari mengamati gaya belajar. Setelah di awal saya mengamati gaya belajar suami yang muncul adalah gaya belajar visual maka kali ini saya akan menutup dengan gaya belajar saya yang cenderung mengedepankan belajar gaya kinestetik.

Adapun ciri-ciri yang muncul berdasarkan karakter seseorang yang bergaya belajar kinestetik adalah sebagai berikut. Mari kita sesuaikan ciri-ciri berikut apakah memang cocok dengan karakter saya selama ini:

Yang pertama adalah suka dengan aktivitas yang mengandalkan olah tubuh. Jika diingat ingat kembali saya sangat bersemangat dalam mata pelajaran olah raga. Saat olah raga saya tidak pernah malas, saya selalu berbinar binar. Saya pun termasuk selalu terobsesi untuk mendapat nilai baik di setiap kegiatan olah raga misalnya lompat tinggi dan lompat jauh. Bahkan saya termasuk urutan pertama saat ada test lari di sekolah. Saya juga sangat suka dengan berbagai macam kegiatan olah raga, misalnya saya selalu bersemangat saat saya bermain olah raga kasti di sekolah dasar dulu.

Yang kedua adalah mudah belajar dengan cara penyampaian melalui gerak tubuh, berjalan-jalan, membolak bailkkan tubuh, bergoyang, terampil dan cekatan. Nah saya jadi ingat waktu dulu di sekolah dasar saya selalu menghafal pelajaran dengan berjalan mondar mandir. Saya juga selalu tampil menari di acara Hut Kemerdekaan saat masih kecil, dimana saya suka sekali dengan aktivitas menari.

Ketiga adalah gerakan tangan menggambar cukup teliti dan detail. Yup, saya seseorang yang muncul sebuah bakan menggambar. Maka ini bisa disebabkan karena gaya belajar kinestetik ini yang berkemampuan jari jemarinya cekatan dan terampil sehingga mampu berkreasi dengan tanggannya.

Ciri keempat adalah kelemahannya gaya belajar kinestetik adalah sulit untuk memahami hal hal yang abstrak misalnya symbol dan rumus matematika. Nah ini sangat tepat dengan saya yang hamper tidak lulus matematika saat ujian tes di Sekolah Menengah Atas.

Terakhir walaupun kita dalam kategori memiliki gaya belajar kinestetik bukan berarti kita harus mengabaikan cara belajar dengan gaya yang lainnya, karena semua yang baik bisa saling mendukung. Maka mari optimalkan gaya belajar kinestetik yang kita miliki dan mencoba untuk mengembangkan gaya belajar yang lainnya.

Diposkan pada Artikel

Pengalaman Terpola untuk Kinestetik #Hari9

Pengamatan kesembilan dengan diri saya sendiri. Jika di awal saya sudah merasakan adanya kebutuhan pengalaman terpola untuk saya bisa menguasai materi. Maka bagaimana pengalaman terpola ini terbentuk akan mengantarkan saya kepada konsep macam macam gaya belajar kinestetik. Apalagi pengalam terpola ini bisa diwujudkan dengan media bongkar pasang dalam melatih soal.

Dengan demikian anaslisa tersebut dekat sekali dengan gaya belajar kinestetik. Dimana gaya belajar kinestetik adalah belajar melalui bergerak, menyentuh dan melakukan. Keinginan cara belajar seperti ini untuk bereksplorasi dan beraktivitas sangat kuat. Diharapkan dengan  bereksplorasi dan melakukan aktivitas dalam belajar ini orang yang belajar dengan gaya belajar seperti ni akan mampu membangun kreativitasnya. Karena saya merasakan sendiri bahwa kreativitas adalah motor utama dalam menguasai materi. Bahkan lebih lanjutnya lagi, kreativitas adalah senajata utama orang seperti saya ini untuk bisa maju dan bertahan untuk hidup. Mungkin sedikit mengebu gebu ya tapi memang cara berpikir tipe seperti saya selalu mempunyai cara unik dan sedikit berbeda cara berpikirnya dari orang lain. Makanya kadang dirinya terkesan nyleneh dan ekstrim.

Karena senangnya dalam bereksplorasi maka ia harus difalitasi dengan ruang gerak yang luas. Sesuai dengan jenis kecerdasan yang muncul yakni kecerdasan spasial. Spasial diartikan dengan ruang, maka untuk belajar ia membutuhkan ruang yang cukup. Untuk menciptakan ruang gerak yang seperti ini memang terkadang tidak mudah. Apalagi dengan karakter sekolah yang masih konvensional. Mereka akan sulit bersksplorasi untuk mengasah kreativitas. Maka ruang reak tersebut terkadang sulit di dapat di sekolah atau pun ditempat kursus.

Jika memang karakter gaya belajar bisa diturunkan melalui genetic bawaan, maka saya harus bersiap jika kelak saya akan mendidik anak saya yang juga mempunyai gaya belajar kinestetik seperti saya.

Diposkan pada Artikel

Peraga Bongkar Pasang #Hari8

Pengamatan ke delapan masih bersama dengan pengamatan terhadap diri saya sendiri. Setelah memahami bagaimana saya bisa tertarik dan bersemangat belajar, selanjutnya adalah bagaimana cara saya agar bisa dengan mudah menguasai materi tersebut. Tidak jauh berbeda dengan langkah awal yaitu mengetahui konsep tersembunyi maka untuk membangun konsep dan kreativitas nya dia harus diberikan fasilitas untuk melatih konsep berpikirnya dengan media bongkar pasang.

Dengan media bongkar pasang tentunya konsep berpikirnya akan semakin matang dan disitulah nanti akan muncul kreativitas. Dalam praktik belajar maka media bongkar pasang ini misalnya adalah dengan memperbanyak latihan soal. Jika saat ini saya sedang belajar bahasa Arab maka saya perlu membuat media latihan kosakata agar saya bisa dengan mudah memperbanyak penguasaan kosata.

Dalam belajar bahasa Arab ini mengapa saya memutuskan untuk memulai dengan kosakata terlebih dahulu. Karena saya menghubungkan dengan cara belajar yang di lakukan oleh Glenn Doman dalam mempelajari sebuah Bahasa. Saya memang sangat tertarik dengan cara Glen Doman memperkenalkan belajar bahasa secara natural. Yakni belajar bahas tidak dengan mempelajari struktur bahasa terlebih dahulu tetapi dengan memperbabyak kosa kata dan mempraktekkan nya dalam mengucapkan sebuha kalimat. Dengan demikian maka secara alami kita akan bisa memahami dari peraturan struktur kata yang berlaku dalam sebuah bahasa.

Diposkan pada Artikel

Pengalaman Terpola #Hari7

Pengamatan ketujuh kali ini saya mengamati cara belajar saya sendiri. Berbeda dengan suami saya yang tidak mengalami kesulitan dalam membaca buku dengan lahab. Saya cenderung harus selalu mengobservasi terlebih dahulu buku tersebut sebelum bisa tertarik membacanya. Misalnya dengan mengetahui garis besar apa saja yang dibahas didalamnya. Hal ini sesuai dengan karakter saya yang selalu berusaha untuk mencari tema yang tersembunyi.

Ciri mencari tema yang tersembunyi ini juga bisa dilihat saat saya melihat sebuah film. Berbeda dengan orang lain yang terkadang mereka tidak suka jika telah mengetahui synopsis keseluruhan cerita bahkan ending ceritanya. Saya malah berkebalikan, saya akan selalu penasaran terlebih dahulu dengan keseluruhan jalan cerita berupa synopsis dan bahkan tidak sabar melihat endingnya terlebih dahulu. Maka, seperti itulah seharusnya gaya belajar yang ditekankan untuk bisa memudahkan orang seperti saya untuk belajar. Misanya dengan mempermudah dia untuk memperoleh tema keseluruhan pelajaran tersebut.

Dengan menghubungkan ciri ciri di atas maka bisa dilihat jika cara belajar seperti ini, akan bisa belajar dengan mudah jika menemukan pengalamannya sendiri dalam materi yang ia pelajari. Yakni agar supaya kemampuan kreatif nya menyala dalam mempelajari sebuah materi ia harus bisa menemukan pengalaman terpolanya sendiri. Misalnya jika saat ini saya mempelajari bahasa Arab. Maka saat saya mencari buku panduan bahasa Arab saya mengobservasi terlebih dahulu apa saja yang akan dipelajari dalam bahasa Arab tersebut. Misalnya, jika dalam bahasa inggris terdapat berbbagai macam tenses maka bagaimana jika di bahasa Arab ini.

Setelah mengetahui secara garis besar grammar Bahasa Arab, bahkan sebelum saya menguasai grammar tersebut, saya mulai berpikir bagaimana langkah saya terlebih dahulu untuk belajar bahasa Arab ini agar lebih mudah dan cepat dikuasai. Nah, langkap seperti ini menurut saya adalah bentuk kemampuan kreativitas yang didahului dengan upaya untuk mendapatkan konsep tersembunyi dalam sebuah materi.