Diposkan pada Catatan Kajian, institut ibu profesional, Kuliah Bunda Sayang, melatih kecerdasan spiritual, Tantangan 10 Hari

Melatih Kecerdasan Spiritual #Dzikir Nafas #Day9

Pada tantangan hari ke sembilan, masih dengan meningkatkan kecerdasan spiritual. Saya dan “my life partner” memang tidak ingin mempunyai target yang terlalu muluk – muluk untuk tantangan periode ini. Saat saya sampaikan tentang tantangan ini, respon nya cukup sederhana. Intinya, ia mengatakan “lurus ke Allah dulu saja belum bisa”. Maksudnya adalah amanah dengan semua yang Allah amanahkan kepada kita. Contoh yang sederhana adalah bagaimana saya merawat suami dengan ikhlas dan “benar”. Bagaimana saya amanah terhadap diri saya sendiri. Untuk itu, saya pikir Dzikir nafas ini sangat sesuai untuk selalu mengingatkan saya agar selalu amanah dalam menjalani kehidupan. 

Dzikir Nafas dan Anchoring (Sebuah Pendekatan NLP)

Setiyo Purwanto dalam buku Dzikir Nafas menyebutkan  bahwa dalam Linguistic Programming (NLP) salah satu cara untuk menjadikan sesuatu secara instan adalah dengan menggunakan teknik Anchoring. Teknik ini mendasarkan pada teori tentang hukum asosiasi pikiran dimana suatu perilaku bisa dipicu dengan memori peyertanya. 

Nafas bisa diibaratkan sebagai tasbih. Alat tasbih yang sering kita gunakan dapat menjadi anchor yang akan mempercepat kita untuk sadar kepada Allah. Jadi, sebenarnya dzikir nafas tidak berbeda dengan dzikir yang menggunakan butir butir tasbih. Nafas dalam hal ini adalah alat untuk mempermudah kita menyadari Allah. 

Menggunakan nafas sebagai alat berdzikir dinilai sangat efektif karena dua alasan. Alasan yang pertama adalah karena nafas dan ucapan Huu Allah menjadikan asosiasi terhadap suasana dzikir yang khusyuk mudah kita capai.  Sedangkan alasan yang kedua adalah karena penggunaan nafas yang setiap kita gunakan ini akan memperdalam tingkat intensitasnya. Dimana prinsip anchor adalah intensitas. Jadi, semakin sering kita menggunakan nafas umtuk dzikir, maka akan semakin cepat pulalah kitab terasosiasi kepada kesadaran terhadap Allah. 

Iklan
Diposkan pada Catatan Kajian, institut ibu profesional, Kuliah Bunda Sayang, melatih kecerdasan spiritual, Tantangan 10 Hari

Melatih Kecerdasan Spiritual #Dzikir Nafas #day8

Dzikir Nafas Mengurangi Stress 

Pada hari ke delapan kita belajar tentang dzikir nafas dan pengaruhnya dalam upaya mengurangi tingkat stress pada manusia. Pernafasan juga berperan untuk membatu proses perbaikan sel sel yang rusak. Karena itulah, biasanya pada kasus yang cukup berat, tehnik pernafasan mampu membantu dalam proses pengobatan. Sel sel dalam tubuh manusia akan mengalami degradasi sebagau akibat dari cedera, stress atau badan yang kelelahan. 

Dzikir nafas menjadi sebuah solusi mengusir stress yang sederhana. Dimana sebagian besar orang biasanya memilih mengunjungi tempat pariwisata untuk melepas penat dengan berekreasi atau dengan memilih melakukan hobi dan olahraga. 

Dzikir nafas merupakan sikap pasif atau pasrah dengan menggunakan kata yang diulang ulang, sehingga menimbulkan respon relaksasi yakni perasaan tenang. Dalam dzikir nafas, respon relaksasi digabungkan dengan keyakinan (keimanan). Pengulangan kata kata yang dipilih akan dapat membangkitkan kondisi relaks. Metode penggabungan ini akan lebih efektif dari pada relaksasi yang tidak melibatkan faktor keimanan. Sehingga metode ini bisa menghantarkan relaksasi yang mendalam. 

Terlepas dari manfaat nya yang sangat banyak, sebagaimana kewajiban sholat yang telah dibuktikan dengan banyak penelitian bisa membuat tubuh manusia menjadi sehat, maka tak perlu alasan tentang kesehatan yang di timbulkan fan cukup bahwa sholat dan dzikir adalah perintah dari Allah saja sudahlah sangat cukup bagi kita untuk selalu menjalankannya dengan sebaik baiknya.

Stress bisa diakibatkan oleh berbagai macam konflik dalam setiap individu. Apabila konflik yang terjadi di setiap waktu tidak terkelola dan bersifat destruktif, maka akan memberi dampak destruktif bagi fisik dan jiwa seseorang.

Stress juga akan mempercepat detak jantung dan memperpendek durasi pernafasan. Dalam literature dunia kesehatan, semakin pendek durasi pernafasan dan semakin cepat detak jantung, maka kesehatan semakin menurun. Nah, dengan dzikir nafas kita dapat memperhatikan keluar masuknya nafas dan pada saat yang sama mengiringinya dengan lafaz Huu Allah, maka nafas akan melambat. Detak jantung pun akan menurun kecepatannya secara otomatis. 

Hal ini akan menimbulkan efek samping berupa ketenangan pikiran dan emosi. Secara otomatis, ketika emosindan pikiran menjadi tenang maka stress pun akan menghilang. 

Diposkan pada Catatan Kajian, institut ibu profesional, Kuliah Bunda Sayang, melatih kecerdasan spiritual, Tantangan 10 Hari

Melatih Kecerdasan Spiritual #Dzikir Nafas #Day5 

Hari ke lima berlatih meningkatkan kecerdasan spiritual. Sebenarnya, tantangan ini sangatlah sulit untuk saya. Tapi karena tidak ingin melewatkan level perkuliahan di kelas Bunda Sayang Institut IBu Profesional, maka mau tak mau saya harus siap.  Sambil berenang minum air, mungkin demikian peribahasa yang saya alami. Sambil mengerjakan tugas  bunda sayang, saya juga bisa memaksakan diri untuk berhijrah untuk lebih  baik. Untuk itu, perlahan semoga saya bisa istiqomah untuk berubah lebih baik. Dan wadah yang saya gunakan untuk melatih diri sendiri adalah dengan berlatih dzikir nafas. 

Nafas diartikan udara yang keluar dan masuk dalam tubuh manusia. Keluar masuknya udara ini untuk membuat manusia bertahan hidup. Setiap kita yang masih hidup pasti bernafas. Dzikir nafas bukanlah ilmu pernafasan. Disini kita hanya mengikuti nafas bukan mengatur nafas. Jika kita mengatur nafas maka kita tidak bisa fokus berserah kepada Allah tapi teralihkan perhatiannya untuk mengatur nafas itu sendiri. 

Kata nafas bisa dikaitkan juga bahwa Allah menyempurnakan manusia dengan meniupkan ruh ke dalam jasad. Kata tiup sangat erat kaitanya dengan kehendak Allah. Ini memberikan gambaran bahwa Allah menggunakan kehendak Nya untuk mengikat atau menyatukan jasad dan ruh kita. Berarti dalam setiap nafas manusia ada kehendak Allah SWT. 

Antara Nafas dan Nafs

Dalam surat Al Hijr 28-29, disebutkan bahwa ketika jasad manusia telah sempurna, maka Allah meniupkan Ruh-Nya. Di dalam ayat tersebut jika dicermati maka unsur manusia terdiri dari dua yaitu jasad dan ruh, setelah bersatu maka munculah nafs yang berarti diri. Jadi ada tiga unsur yang dapat kita jadikan patokan dalam proses pembentukan manusia yakni jasad, Ruh, dan Nafs. 

Perubahan pemahaman bahwa yang menafaskan saya adalah Allah. Atas kehendak Allah lah setiap nafas yang terhembus menjadikan adanya perspektif yang berbeda tentang kehidupan dunia. Misalnya, saya mulai mempasrahkan diri kepada kehendak Allah Yang Maha Pemberi Kehidupan. Dari yang sederhana tentang nafas dengan memperhatikan keluar masuk nafas kemudian disertai dengan kesadaran spiritual (ihsan) menjadikan pemahaman pemahaman tentang kehidupan mengalir, dan semakin merasakan pemahaman yang dalam di setiap hikmah kehidupan. Dari yang sekedar nafas ini, muncul pemahaman bahwa Allah berkehendak di segala sisi kehidupan saya dan tentunya hal ini dapat merubah sikap ke arah yang lebih positif. 

Sumber referensi : Dzikir Nafas, Setiyo Purwanto, 2017. 

Diposkan pada Catatan Kajian, institut ibu profesional, Kuliah Bunda Sayang, melatih kecerdasan spiritual, Tantangan 10 Hari

Melatih Kecerdasan Spiritual #Dzikir Nafas #Day1

Melakukan tantangan sepuluh hari melatih kecerdasan bersama anggota keluarga menjadi ajang perubahan membuang kebiasaan buruk menjadi lebih baik lagi. Kebiasaan buruk misalnya adalah bermalas malasan, berdiam diri atau melakukan kegiatan yang tidak berfaedah. Kenapa? Karena kita akan dituntut untuk berlatih setiap hari melakukan kegiatan yang bisa melatih kecerdasan kita di segala aspek, misalnya dari sisi kecerdasan spiritual, intelektual, emosional dan menghadapi tantangan. 

Butuh waktu lama hingga saya menuliskan laporan tantangan meningkatkan kecerdasan spiritual ini, karena saya termasuk orang yang mempunyai cara belajar menangkap makna. Bisa dibilang idealis dalam mengerjakan sebuah tugas. Apalagi sebuah “challenge” meningkatkan spiritual. 

Langkah pertama, saya mengevalusi kondisi saya dalam ranah kecerdasan spiritual. Kenapa saya memilih kecerdasan spiritual untuk challenge ini? Karena dalam anggota keluarga inti saya hanya ada saya dan suami dan dari keempat kecerdasan, kecerdasan spiritual adalah bagian yang sangat penting untuk bisa menjadi manusia yang amanah dan istiqomah. 

Pilihan kegiatan sepuluh hari yang terpikirkan yang pertama adalah tantangan untuk melakukan target amalan ibadah untuk meningkatkan kecerdasan spiritual. Tetapi cek list amalan seperti ini sudah biasa kita lakukan sehingga kurang ada greget perubahannya. 

Berhubung akhir akhir ini kita berdua sedang belajar dalam sebuah jama’ah metode dzikir nafas, maka kita memutuskan untuk membuatnya menjadi tantangan sepuluh hari meningkatkan kecerdasan spiritual. Dan tulisan ini adalah evaluasi hari pertama tantangan meningkatkan kecerdasan spiritual dengan dzikir nafas. 

Dzikir adalah kesadaran akan Allah, yaitu Allah yang dekat yang Maha Meliputi Segala Sesuatu atau Al-Muhiith. Kitab suci Alquran sangat jelas menyebut bahwa Allah itu dekat. Bahkan, tingkat kedekatan ini digambarkan dengan ungkapan “lebih dekat dari urat leher”. Ini menunjukkan bahwa Allah memang sangat dekat dengan hambaNya. 

Ketika kita menjalankan perintah Al-Qur’an ini tentunya kita tidak bisa menggunakan indera mata untuk bisa melihat kedekatan kita dengan Allah. Kita pun tidak bisa berfikir bahwa posisi Allah lebih dekat dari urat leher kita. Kita hanya mampu menangkap kedekatan itu dengan kesadaran kita. Inilah makna dzikir yaitu sadar bahwa Allah berada dekat dengan kita setiap saat. Sehingga kita akan bisa menggapai makna dari ihsan yaitu merasa selalu diawasi oleh Allah disetiap langkah kita. 

Dzikir kepada Allah yang penting dan harus selalu kita lakukan adalah dzikir ketika kita sedang mengerjakan sholat. Kesadaran terhadap Allah dimulai sejak awal ketika ‘takbir’ hingga ‘salam’ ketika menutup sholat kita. Ini adalah hal yang sangat mendasar dan haruslah diutamakan, karena Allah perintah Allah terkait ubadah sholat berbunyi: “Dirikanlah Sholat untuk dzikir kepadaKu!”. Untuk itu, dihari pertama ini kita berlatih fokus dalam sholat dengan langkah awal dzikir nafas yaitu dengan memperhatikan nafas. 

Sumber Referensi : Dzikir Nafas, Setiyo Purwanto, 2017. 

Diposkan pada Catatan Kajian

Neraka itu disini, saat ini, seperti ini…

Neraka itu disini, tempat kita terbakar api kemarahan sehingga terasa sangat panas di hati kita. Hati terasa sesak sulit memaafkan, merasa sangat tersakiti bercampur dengan kesombongan atas harga dirinya yang tertinggi seakan kita terlupa bahwa ada Dzat yang Maha Tinggi, Maha Memaafkan.

Tempat kita selalu berada dalam kegelisahan akan keraguan terhadap takdir Allah yang Maha Kuasa.  Miskin akan keyakinan kepada takdirNya, merasa dirinyalah yang dapat memutuskan segala hal di dunia.

Dimanapun dibelahan dunia ini saat ini selalu bersama-sama dengan setan dalam kemaksiatan, disitulah neraka. Lanjutkan membaca “Neraka itu disini, saat ini, seperti ini…”