Artikel

Saling Menyayangi, Saling Mengasihi


Ikan kesayangan saya :)
Ikan kesayangan saya 🙂

Menyayangi dan Keberkahan

Alkisah ada sebuah keteladanan dari seorang pemimpin universitas Islam, beliau mempunyai kebiasaan memberikan makanan berupa gula kepada semut-semut dirumahnya. Suatu ketika disaat sang Rektor bepergian dan tidak ada seorang pun dirumah yang memberikan gula untuk semut-semut tersebut, maka sekembali rektor tersebut ke rumahnya, rumahnya dipenuhi banyak sekali semut-semut tersebut. Seseorang bertanya kepadanya, kenapa Bapak selalu memberi makan semut-semut itu, sang Rektor menjawab:  “Aku memberi makan semut-semut itu dan aku meminta semut-semut itu untuk meng-amin-i do’a-do’a ku, karena do’a mereka mungkin lebih mustajab karena semut-semut itu lebih sedikit berbuat dosa daripada diriku”.

Begitu indahnya saling menyayangi dan mengasihi kepada semua ciptaan Allah. Jika semua perilaku dan pemikiran kita didasari oleh sikap saling menyayangi dan saling mengasihi maka kehidupan yang memang sangat fana dan penuh dengan ujian ini akan terasa membahagiakan. Lain halnya dengan semut-semut yang tak berdosa, ada makhluk yang sangat lucu dan penuh kasih yang mana jika kita membahagiakannya maka dengan izin Allah keberkahan akan selalu bersama kita. Siapakah dia? Anak-anak yang masih jauh dari perbuatan dosa.

Masih ingatkah kita jika pada zaman dahulu orang Jawa suka mengundang khusus anak-anak untuk syukuran, bermacam-macam agenda: mulai dari syukuran beli sapi, syukuran “hari jadi” bayi dan sebagainya. Kenapa kebanyakan yang diundang adalah anak-anak karena anak-anak itu bisa saja do’a nya lebih mustajab. Kemustajaban nya dikarenakan anak-anak masih belum melakukan dosa-dosa besar. Untuk itu berbahagialah para guru yang bisa membahagiakan anak-anak didiknya, sehingga dengan membuat mereka bahagia dan akan datang rezeki kepadanya. Apalagi guru PAUD yang anak-anak didiknya masih murni sekali, jauh dari dosa, maka sering-seringlah guru PAUD ini mengajak anak didiknya berdo’a bersama dan juga mendo’akan guru nya. 🙂

Menyayangi dan Keikhlasan 

Bunga pertama dari melati ku
Bunga pertama dari melati ku

Kemarin pada hari Jum’at saya berkunjung ke Malang, untuk bertemu Dosen dan keperluan translate dokumen. Hari yang luar biasa bertemu dengan teman-teman lama yang memberi sambutan yang sangat hangat dan welcome sekali. Bertemu dengan junior-junior yang ngangeni, banyak sekali yang kita obrol kan dari gosip hingga fakta. Bertemu dengan dosen, bercanda dan sharing pengalaman yang bermanfaat, yang sangat melegakan saya dalam waktu dekat tidak jadi harus membuat proposal research. 🙂  saya sempat dag dig dug masalah ini, tapi stay cool.

Dalam perjalanan pulang ke Jombang, saya berjalan melewati kawasan kontrakan saya dulu. Tak disangka, ada gadis ABG yang menyapa dengan memanggil namaku nyaring, dengan sangat akrab kami berpelukan. Dia adalah Ria, gadis cilik tetangga kontrakan, dulu dia suka sekali main ke kontrakan untuk belajar setiap malam. Kontrakan saya memang dekat dengan tetangga, kita selalu berusaha silaturrahim dan sekali-sekali memberikan bingkisan dari rumah. Dan kami menawarkan kepada anak-anak tetangga jika ada kesulitan belajar bisa minta diajari di kontrakan kami.

Begitulah, tidak terbayang kan dengan banyaknya kegiatan anak-anak kontrakan yang rata-rata adalah aktivis kampus, setiap malam kami meluangkan waktu untuk membantu anak tetangga untuk belajar. Pertama memang kadang muncul keterpaksaan tapi saya mengingat bagaimana dulu saya juga selalu belajar di rumah tetangga saya yang seorang guru tanpa biaya apapun. Beliau memang sangat mulia, hingga sekarang jika saya pulang ke desa, saya selalu menyempatkan untuk bersilaturrahim kerumahnya. Dari situlah aku belajar keikhlasan untuk berbagi dan menyayangi.

Kembali keceloteh dek Ria, dia bilang, ” eh mbak Tetik dari pulang mana oleh-oleh nya?”  Jleb… , nih memang saya sudah merasa beberapa moment terakhir saya lalai dengan perihal yang satu ini yaitu buah tangan, yang terkadang seseorang tidak akan menilai dari berapa harganya tetapi kasih sayang dan perhatian yang ada padanya. Pernyataan ini seperti teguran buat saya, dulu memang saya beberapa kali bersilaturrahim ke rumah dek Ria dengan membawa oleh-oleh, sederhana tapi sangat berkesan buat saya dan keluarga dek Ria.

Bahagia dengan sederhana, mengasihi 

Ingat dengan mengasihi semut, bagaimana keistiqomahan sang Rektor memberi makan semut, dan juga kisah teladan Ibunda Yoyoh Yusro yang selalu mengasihi bunga-bunga melati yang ada didepan rumahnya, yang mana bunga melati itu selalu mekar dengan indah. Bu Yoyoh bahkan dikisahkan sesekali membelai dan mendo’akan bunga itu, dan yang paling berkesan dari sang suami Bu Yoyoh selalu memetik bunga melati itu untuk menghiasi kamarnya. Begitu indah kebahagian yang sederhana. Mengasihi tidak hanya untuk sesama manusia tetapi juga kepada seluruh makhluk Allah.

My students
My students

Iklan

17 thoughts on “Saling Menyayangi, Saling Mengasihi

  1. Mbakyuuu, diriku terharu membaca ceritamu. Kadang kita lupa jika semua makhluk Allah yang hidup maupun tidak sejatinya mereka senantiasa bertasbih.

    Kebaikkan itu pada awalnya memang harus dipaksakan mbak. Tanpa pemaksaan kita tak pernah maju

  2. terimakasih ya mbak..tulisanmu yg ini sudah kembali mengingatkan saya betapa kita sesama makhluk hidup ciptaan Allah harus saling menyayangi…
    Supeeerrr mbak….!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s