Artikel

Perbedaan dan Ilmu


CIMG0832Masing-masing orang itu pasti berbeda, tidak ada orang yang mempunyai pemikiran yang sama secara keseluruhan, karena Tuhan MEMPERJALANKAN masing-masing orang itu tidak sama. Sejak lahir hingga beranjak dewasa pengalaman yang dihimpun atau direkam oleh memori otak setiap orang pasti berbeda. Bahkan walaupun dua orang sejak kecil selalu bersama dan mengalami pengalaman yang sama belum tentu keduanya akan memiliki pemahaman yang sama. Jadi bukankah orang yang sangat merugi jika orang itu selalu menuntut kepada orang lain untuk sama dengan nya. Dan berpandangan negatif kepada orang yang tidak sama dengannya. Selama perbedaan itu masih dalam jalan KEBAIKAN maka menjadi sesuatu yang wajar jika terdapat perbedaan dalam hal pemikiran, penafsiran, cara berjuang, pergerakan serta visi misi nya.

Bukan orang lain yang harus selalu mengerti kita tetapi kita yang harus bisa MENERIMA saat orang lain berbeda dengan kita. Cukup lah dengan menerima dan TIDAK HARUS KITA MENGERTI, karena sering kali kita terjebak dengan usaha untuk memahami atau membaca pikiran seseorang sehingga kita seperti menghakimi pemikiran tersebut. Sekali lagi jika kita memang sulit untuk memahami orang lain, maka tidak perlu saling memahami cukup MENERIMA karena mungkin pemahaman kita yang belum bisa menjangkau daripada pemikiran orang lain. Yang penting adalah kita yakin bahwa perbedaan itu tetap dalam ranah MENUJU KEBAIKAN DAN PERBAIKAN.

Dan untuk mengetahui bahwa sesuatu itu baik dan buruk, penting sekali untuk kita selalu bersemangat untuk selalu menuntut ilmu. Ber azzam “Long Live Study”, “karena orang yang tidak berilmu itu bagaikan mempunyai mata tetapi ia buta, mempunyai telingga tetapi ia sebenarnya tuli dan mempunyai mulut tetapi ia bisu” (Kyai Anwar Zaid). Ia bisa melihat tetapi ia tidak bisa melihat kebenaran, ia bisa mendengar tetapi tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, ia bisa berbicara tetapi tidak berkata santun kepada saudaranya sendiri. Oleh karena itu, menuntut ILMU itu sangat penting. Dari ringkasan Ihya Ulumudin, Said Hawa’ menuliskan “akhir dari orang yang bodoh  adalah awal dari orang yang berakal”. Tentu saja yang di maksudkan disini adalah orang bodoh yang mau menuntut ilmu, atau bisa juga orang yang menuntut ilmu dengan menetapkan bahwa dirinya masih bodoh layaknya gelas yang kosong sehingga ia bisa menuntut ilmu secara maksimal layaknya gelas yang terisi air.

Jadi bisa dikatakan bahwasanya orang yang masih mempermasalahkan perbedaan yang sejatinya adalah Sunnatullah, ia adalah orang yang masih harus belajar lagi alias belum cukup ilmunya. Semoga kita senantiasa bisa selalu menuntut ilmu dimanapun kita berada, karena dunia seisinya ini adalah wadah untuk bertafakur, merenungkan kekuasaan Allah dan banyak sekali ilmu yang bisa kita pelajari dari setiap orang yang kita temui.

Iklan

6 thoughts on “Perbedaan dan Ilmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s