Artikel

Dewasa Dalam Perbedaan


Perbedaan adalah hal yang sangat sulit kita hindari, dimanapun, kapanpun, perbedaan di segi apapun itu  akan sering sekali kita temukan. Lantas adakah kita masih bermasalah dengan sebuah perbedaan? seharusnya kita memang tidak mempermasalahkan hal ini lagi, akan tetapi tidak disepelekan juga, masih saja dalam hal-hal tertentu kita sering kali lupa untuk mengesampingkan perbedaan, atau istilah lainnya dewasa dalam menyikapi perbedaan. Hanya orang-orang yang berjiwa besar dan dapat berperan bijak yang bisa mencium sebuah makna perbedaan yang mungkin saat itu sedanga di depan mata, sehingga tidak terjadi pertengkaran atau perselisihan yang tidak berguna. Ini hanya sebatas contoh saja jika memang saya masih banyak menemukan penyikapan yang saya pikir tidak dewasa dalam menyikapi perbedaan antar pemikiran dalam mengamalkan agama. Dalam agama Islam sebuah perbedaan adalah hal yang sunnatullah sebagaimana  Imam Ghazali mengatakan : “Bagaimana mungkin ummat akan bersatu mendengarkan satu pendapat saja, padahal mereka telah ditetapkan sejak di alam azali bahwa mereka akan terus berbeda pendapat kecuali orang-orang yang dirahmati ALLAH (para Rasul as), dan karena hikmah perbedaan itulah mereka diciptakan.” [Al-Qisthas al-Mustaqim.]

Sayyid Quthb: “Adalah tabiat manusia untuk berbeda, karena perbedaan adalah dasar diciptakannya manusia yang mengakibatkan hikmah yang sangat tinggi, seperti perbedaan mereka dalam berbagai potensi dan tugas yang diemban, sehingga akan membawa perbedaan dalam kerangka berfikir, kecendrungan metodologi dan tehnik yang ditempuh. Kehidupan dunia ini akan membusuk jika ALLAH SWT tidak mendorong manusia melalui manusia lainnya, agar energi berpendar, saling bersaing dan saling mengungguli, sehingga mereka akan menggali potensi terpendam mereka untuk terus berupaya memakmurkan bumi ini yang akhirnya akan membawa pada kebaikan, kemajuan dan pertumbuhan. Itulah kaidah umum yang tidak akan berubah selama manusia masih tetap disebut sebagai manusia.”

Adapun batasan dalam perbedaan adalah tidak diperbolehkannya perdebatan dalam masalah dasar-dasar agama sedangkan salafus-shalih yang alim dan faqih membenarkan dan bahkan menjustifikasi perbedaan pendapat, sepanjang dalam masalah-masalah furu’iyyah dan ijtihadiyyah dan bahwa merekapun dalam kehidupan mereka membiarkan perbedaan tersebut terjadi. Hal-hal tersebut sebenarnya sudah selesai sejak dulu dalam kalangan ulama, hanya orang-orang yang tidak mau terus dan terus belajar akan Islam yang masih memperburuk perdebatan akan perbedaan Islam.

Bagaimana bisa sesama umat Islam yang mempunyai semangat untuk berdakwah, mensyiarkan Indahnya Islam masih saja tidak akur jika pendapat mereka berbenturan, di satu gerakan mengajak kajian muslimah menempel pamflet di mushola yang bergambar kartun-kartun muslimah yang ceria sedang mengikuti kajian, al hasil besoknya wajah kartun para muslimah cantik sudah penuh dengan “Tip Ex” untuk menghapus wajah para muslimah. Apalagi diberi penegasan “haram” misalnya. Tidakkah memungkinkan jika yang menempel gambar bisa saja terluka hatinya. Bukankan kita harus mencintai saudara kita seperti diri kita sendiri. Contoh lainnya dimana para aktivis dakwah sudah memeta-metakan wilayah dakwahnya, sudah kayak preman-preman pasar saja, bagaimana bisa satu-sama lain sesama mendakwahkan Islam membagi-bagi ini hak antum ini hak ane karena ane yang membangun disini. Semoga kita bisa lebih dewasa dalam menghadapi perbedaan.

Imam Malik (pemimpin mazhab Maliki) pernah diminta oleh khalifah abu Ja’far al-Manshur untuk menyatukan semua ummat di dalam mazhab fiqh-nya, maka jawab Imam Malik: “Wahai amirul mu’minin jangan lakukan itu, karena manusia telah banyak menerima pendapat ulama lainnya, mereka pun telah mendengar dan meriwayatkan banyak hadits, dan setiap kaum telah berhukum sesuai dengan riwayat yang telah lebih dulu sampai pada mereka, maka biarkanlah mereka mengambil hukum sesuai dengan pilihan mereka sendiri.”

Iklan

13 thoughts on “Dewasa Dalam Perbedaan

  1. tak jarang hanya karena perbedaan terjadi pertumpahan darah, saling bunuh-membunuh, saling mengkafir-kafirkan, saling jotos, saling prekpek, saling balbal, saling nyerongot, dan saling-saling lainnya, hehe…

  2. padahal Allah swt menciptakan semuanya berbeda, agar kita, manusia bisa merasakan betapa indahnya ciptaanNYA.
    dengan segala perbedaan ini, kita justru makin kaya dlm segalanya , kaya ilmu juga kaya hati ya Tik 🙂
    salam

  3. Intinya kita harus mendukung tinggi terhadap persamaan dan kemudian bekerja sama di dalamnya; sedangkan untuk hal-hal yang berbeda haruslah ada di dalam ruang toleransi masing-masing ktia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s