Artikel

Eksklusif Yang paradigmatik


Bosan mendengar kritikan terkait kader dakwah yang dibilang eksklusif, stop! sebenarnya jika kita tidak seperti menjaga dari hal-hal yang tidak baik. Yang biasa disebut eksklusif, Maka apakah yang kita harapkan dengan ketidak eksklusif-an, apakah menyeimbangi pergaulan bebas. Akan sangat diterima jika memang bentuk ke eksklusifan tersebut adalah tidak mau menerima kerjasama dengan orang-orang tertentu misalnya,akan tetapi  hal itu pun sangat jauh dari kenyataan saat ini. Kader dakwah adalah orang-orang yang acceptable,mudah diterima bekerjasama atau mudah menerima untuk bekerja sama, bersifat sangat cooperative dalam kebaikan. Lalu dari sisi mana ke eksklusif an itu?

Ya saya paham dengan maksud Anda, mungkin ini adalah sifat-sifat yang biasa ditempelkan pada kader dakwah, “kader lebih senang menyendiri dengan Qur’an ketimbang diskusi perkuliahan dengan teman-teman satu lab, kader lebih senang “kabur” dengan cepat setelah kuliah selesai untuk ke masjid ketimbang bersapa dan berbasa-basi ria dengan teman satu kelas, kader lebih senang makan sendirian atau makan dengan sesama kader ketimbang makan bersama teman-teman satu himpunan program studi.Entah jika memang ada kader dakwah yang seperti itu, maka sifat itu pun sudah ada walaupun ia bukan kader dakwah, dia kurang dapat bersosialisasi, malah jika ia kader dakwah maka ia akan berusaha membuka dirinya untuk berdakwah. Ia di kader untuk berdakwah dan dapat merangkul banyak golongan. Kita seperti terjerat isu ke eksklusif-an yang diterima masyarakat secara paradigmatic saja. Disalah satu sisi bisa sebagai renungan tetapi sisi yang lain dapat mendegradasi mental sebagian kader yang menganggap benar bahwa langkah dakwah kita terlalu eksklusif.

Sebernarnya celah kesempatan ke eksklusif-an berada pada ketidak mampuan kita memanage agenda dakwah dengan pergaulan kita bersama teman dan sahabat kita, tahun pertama saya sulit mendapat sahabat di kampus, maklum tidak bisa orang dapat mengikuti kesibukan seorang kader dakwah, yang pagi-pagi sudah dari syuro,tiba di kelas sangat mepet jam masuk, setelah kuliah langsungada syuro lagi, sehingga tidak sempat bersosialisasi dengan teman, apalagi dengan tantangan ciri-ciri seorang sahabat yang lebih mudah mempererat hubungan jika kita memang sering berhubungan intens sehingga kita paham satu sama lain. Sampai suatu ketika saya berdo’a kepada sang penjaga hati, untuk memberikan aku seorang sahabat.

Sebenarnya masing-masing Kita dapat mempelajari suasana masyarakat kampus kita, dan kita dapat belajar diterima disana. Menyesuaikan diri tanpa melebur,maka kita sebenarnya dituntut bersifat eksklusif tapi tanpa bersikap eksklusif. Tantanganya adalah berteman dengan sekelompok orang tanpa mengenal, mengenal berarti kita tau sedikit atau banyak tentang mereka, dan tau berarti kita harus sering bergaul dengan mereka.

Maaf jika cenderung dari sudut pandang saya dan tulisan yang salah. Semoga menjadi renungan kita terhadap sikapkita selama ini. Sudahkah memperhatikan orang lain disekeliling kita.

Iklan

6 thoughts on “Eksklusif Yang paradigmatik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s