Artikel

Sebuah Persimpangan


persimpangan
persimpangan

Liburan atau pulang ke kampung halaman bagi sebagian mahasiswa adalah saat untuk beristirahat di rumah.  Mungkin saat menyenangkan denganbanyak agenda-agenda silaturahim yang telah siap menanti.

Ingin rasanya kita dirumah bersama orang tua, menikmati masa-masa kebersamaan untuk berbakti disisa-sisa umur kedua orang tua kita.

Bagi sebagian orang mungkin sangat sulit sekali menikmati moment-moment bersama dengan keluarga, banyak sekali  sebab permasalahan yang menghalangi mereka bisa berkumpul dengan sanak keluarga. Bagi mereka mungkin harus bekerja demi keluarga hingga harus berada jauh dari mereka.

Bapak ibu, jauh disini, putrimu selalu mendoakan kalian, semoga selalu berada dalam keridhoan Allah.

Memang liburan sudah lama jauh dari bayang-bayang, bisa istirahat di rumah dengan puas. Ups tapi kepuasan adalah relative bagi seseorang.  Minimal bagiku aku bisa sharing dengan ibu dan memberikan sesuatu yang berarti bagi keluarga.

Liburan berarti aku dihadapkan pilihan untuk mengabdi kepada keluarga yang telah banyak berjasa kepadaku. Tidak bisa melakukan apaun yang kita kehendaki adalah sesuatu yang tidak menyenangkan bagi jiwa muda. Sekarang aku dan bapak asuhku sedang dalam perdebatan, beliau menginginkan aku untuk tidak aktif dalam aktivitas di kampus. Aku harus focus untuk memperkuat ekonomi keluarga. Yups totally right. Aku memang selalu memikirkan masa depan keluarga, dan menyadari bahwa hanya aku satu-satunya sekarang yang menjadi tumpuan keluargaku.

Aku mencoba untuk memprioritaskan bekerja dan mentaati apa yang di arahkan bapak. Sekali lagi aku bukan orang yang luar biasa, otakku biasa-biasa saja. Aku bersama bapak mempunyai beberapa jenis pekerjaan online, yups aku belum begitu handal tentang ini, masih belajar, membuatku lebih asyik jika beraktivitas di dakwah kampus.

Semakin aku dikampus, semakin terjebak dengan aktivitas kampus. Aku memang yang masih tetap ingin mempertahankan ini, aku mengaharapkan bekerja dan dakwah kampus bisa seiring dengan baik, tapi dalam evaluasi ini, aku belum bisa mewujudkannya. Dan alhasil, intropeksi dari bapak menyudutkanku.

Liburan dengan pilihan tetap di bumi dakwah Malang atau di Jombang adalah cerminan sikapku, bukan ketidak berdayaan akan tetapi mencoba merenungkan kembali, Bertafakur sejenak untuk menyusun strategi kedepan, sekaligus semoga Allah yang maha membolak-balikkan hati , membuat bapak lebih bisa memandang bahwa dakwah ini tidak bisa ditinggalkan begitu saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s