Artikel

Cukup lah aku sebagai Cinderella


cinderellaLayaknya kisah sang Cinderella, mungkin tidak seindah pangeran pujaan yang berkendaraan kuda putih. Cukuplah do’a-do’a sepanjang malamku untuk menjemputmu di surga, pangeran hidupku.

Sepatah kata sahabat kecilku yang polos mengingatkan aku akan karunia maha besar dari penguasa hati seluruh umat ini. “mbak tetik punya segalanya ya, semua kebutuhan terlengkapi”, “he” aku pun tercengang, benarkah. Aku pun terhanyut dalam muhasabah yang dalam, menyelami segala sudut impian dan segala kenangan akan masa lalu, perasaan-perasan akan keinginanku yang kuat, tetap dalam semangat layaknya anak kecil yang polos menginginkan untuk mendapatkan sebuah permen. Meskipun dari keluarga yang miskin sulit untuk aku memperoleh ataupun pernah membayangkan hal seindah ini. Benar, sangatlah besar, perbedaan yang terjadi dalam hidupku. Masa masa SMU benar-benar lonjakan yang jauh dan terjal hingga mengubahku sangat-sangat berbeda. Aku juga tidak melakukannya dengan sadar, apakah Cinderella sadar saat ia berangkat untuk pergi ke pesta maka pangeran akan menyukainya, apakah ia sengaja meninggalkan sepatunya untuk dapat mendapatkan sang pengeran.

Begitukah dengan aku, setiap keputusan yang aku ambil tiada pernah berfikir sedewasa itu, untuk apakah aku sebenarnya meninggalkan keluargaku dan mengabdi kepada keluarga yang benar-benar asing tidaklah hanya untuk melanjutkan sekolah, bukan banyangan yang lebih hingga apapun yang aku dapatkan sekarang, sungguh tidak pernah aku membayangkannya.

Tiga tahun sebenarnya bukan waktu yang singkat hingga semua menjadi seperti ini, cukup sulit jika aku mengingat masa masa aku bekerja, ini semua sangat mendadak saat aku mulai bercita-cita besar untuk melanjutkan kuliah. Itupun tidak gampang, setahun aku keluar rumah dengan senang hati atau tidak, saat itu aku seperti pemberontak yang keras kepala.

Dengan bekal seadanya pun aku nekat pergi ke Surabaya. Siapa yang bisa menyangga, hati Bapak akhirnya tergugah, beliau mencariku, memang usahanya untuk tetap menahanku tinggal dijombang untuk mengurus lembaga pendidikan islam milik beliau bukanlah permintaan yang berlebihan. Akan tetapi saat itu idealismeku untuk tetap melanjutkan kuliah masih sangat besar, beliau kagum dengan semangatku itu dan akhirnya mendukungku. Hubungan kami yang semula hanya seperti majikan dan anak buah, tangan kanan atau apalah.

Semua terjadi begitu indah, penuh dengan tangan-tangan Allah lah yang maha berkehendak. Akhirnya keluarga ini begitu dekat dengan ku, hubungan kami berubah semakin dekat, kedaan berubah aku sekarang seperti layaknya putri, Bapak dan ibu sangat perhatian denganku. Mungkin akulah Cinderella itu yang mendapatkan apa yang tidak pernah aku hayalkan. Tunggulah bapak , ibu aku akan menjadi putri chai ging yang akan melakukan banyak kebanggaan untuk kalian bercerita bahwa aku adalah putrid kalian. Chayo ….

Iklan

5 thoughts on “Cukup lah aku sebagai Cinderella

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s